Tampilkan postingan dengan label Journal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Journal. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 April 2017

#ARKI2016 || Lomba Dimulai, Mewek Bombai [3]

NAVIGATION
[Next Chapter] [Previous] [First] [Last]



Tahu gak, sebelum tidur saya nemu pernyataan TEMA FINAL di buku petunjuk ARKI 2016 setelah Zahra shalat isya. Serius. Temanya bocor(?) sebelum kita mulai lomba.... dan kalau kalian baca bahwa kita satu ARKI kerepotan setelahnya maka anda benar.

Tertulis di sana, bahwa tema komik ARKI 2016 Final adalah Tiba-Tiba Keluargaku Hilang dan tema cerpen ARKI 2016 final adalah Keluargaku Inspirasiku.

Terus karena kita nemu itu, kita diskusi sampai jam 11 malam, dan itu bodoh. Alasan utamanya ikuti cerita ini terus, tapi kalian mungkin bisa tahu kenapa itu ide buruk.

Pertama, kita jadi kurang tidur dan kebanyakan mikir sebelum lomba. Aku juga gampang tegang dan kalau udah gitu saya harus makan cokelat. Saya udah sikat gigi lagi huhuhu...

Kami berdiskusi. Rencana dia lumayan, sungguh. Seengaknya kalau saya pikirkan lagi, dia punya 1 kelebihan meski kemungkinan terburuk terjadi (yaitu tema diganti detik sebelum lomba). Dia udah punya karakter dengan latar dan karakteristik.

Saya juga udah nyiapin plot, agak ngahiwal, tapi sesuai dengan saya yang biasa nulis cerita miris dan tragis. Kisah saya tentang keluarga yang 'hilang' tidak secara fisik, namun secara 'perilaku dan kasih sayang'. Kakeknya saya buat meninggal, ibunya benci dia, ayahnya nikah lagi dan bawa istri barunya pergi, dan dia tinggal di rumah reyot yang ancur.

Rohie, kamu serius? ARKI gak nerima komik berunsur SARA, ide kamu agak menjurus ke family abuse!!

Ya.

Aku tau ini lebih parah daripada komik penyisihan saya yang berkisah tentang kakak yang berusaha bunuh diri karena broken home, dicap pengkhianat dan gak punya bakat dan kemampuan selain bermain game, tapi seandainya kau ingat...

...Ini mungkin lomba terakhir saya. Yang saya inginkan adalah nikmatin saat-saat berharga ini.

Satu hal lagi! Saya pikir, lomba selama 4 jam membuat komik 8 halaman berarti aku hanya bisa berkerja 30 menit per halaman. Saya memutuskan untuk membuat karakter yang bakal mirip meski saya menggambar dengan terburu-buru. Sejak malam hari saya memikirkan gadis ini: Rambut bob, mata bulat, dengan tinggi badan di atas rata-rata.


TIPS ARKI KOMIK 1: Bayangkan kemungkinan karakternya yang bisa kamu gambar dengan cepat tapi punya karakteristik.

TIPS ARKI CERPEN 1: Pikirin nama. Seengaknya kamu gak perlu ngahuleng 30 detik buat nyari nama yang cocok.


Jadi intinya... saya bodoh menyeret Zahra dalam diskusi malam, soalnya kami berdua tidur agak larut dan aku gak yakin saya bisa berlomba dengan tenang.

Sumpah, saya susah tidur. Kepala capek dan kurang sehat sebelum sempat berlomba. Lucu sekali.

Tapi kita bangun pagi dan shalat berjamaah. Kita memikirkan ide dan mematangkannya. Kami bergantian mandi; aku terlebih dahulu karena aku mau keluar dan me-chat Wheza, atau Iru, atau mungkin siapapun yang bisa bikin aku gak nerveous lagi. Aku... gak terlalu banyak bicara sama dia. Soalnya saya anak Introvert yang kurang suka bikin ribut.

"Eh, bisa gak kamu bantu aku cari referensi di internet?" tanya Zahra.

And so I did. Saya ke ballroom jam 5 pagi buat wi-fi dan diam-diam mencari apa yang Zahra butuhkan untuk ide ceritanya. Aku tidak menemukan segalanya yang dia butuh, tapi seengaknya saya berhasil menemukan salah satunya.

Teamwork!

Kita turun dan sarapan. Di sana sudah banyak orang yang berkumpul. Andika sudah berteman dengan orang luar pulau yang agak lebay dan bikin saya takut itu... de Putra, kalau tidak salah. (Maklum saya gak nyaman dengan orang-orang berisik) Fani and the gengz bikin roti bakar. Aku inget cewek-cewek kebanyakan berkerumun di depan meja bubur, roti dan sereal alih-alih nasi. Sementara, saya dan Zahra lebih memilih untuk makan biasa. Nasi adalah sesuatu yang membuat kepalaku berhenti meronta dan bilang, you'll fail eventually, ya dipsheet.

(Saya sudah bilang kan kalau otak saya pikirannya negatif banget?)

Saya pesimis lagi; gimana seandainya ada perubahan tema beberapa MENIT sebelum lomba dimulai? Aku mau nangis. Tapi aku pakai alasan standar untuk menenangkan diri.

Ini lomba terakhir kamu. Enjoy aja. Bikin yang aneh kalau bisa.

So yeah. Aku sarapan. Makan sedikit sambil menciptakan ruang kosong di perut, soalnya aku takut sakit perut waktu lomba. Aku juga menghindari susu, meski tiga per empat gelas teh dengan dua sendok susu cair membantuku menenangkan tangan. Setelah itu kami pergi ke ballroom lagi.

Ternyata kami para kru komikus berlomba di Ballroom, sementara Cipta Syair dan Cipta Cerpen pergi ke tempat lain. Jadi saya gak bisa ngintipin Mauren, Diko dan saya... belum ketemu Hastom. Kan sebel. Saya dikelilingi terlalu banyak orang baru, huu...

Detik dimana para pencipta kata itu pergi, saya melihat 13 wajah cewek saingan pencipta gambar dan 1 cowok penyendiri. Astaga. Dari 15 finalis cipta komik itu, hanya satu cowok yang berdiri di sana. Dan dia masih muda, malu-malu kucing di pojok ruangan! Sementara kami para cewek menunjukkan karya di tengah lorong, dia... dia menyendiri. Kasihan. Tapi imut //slap

Aku tahu cowok itu sejak hari pertama. Guru pembimbingnya menyapaku (bukan dia yang nyapa) dan saya mengobrol sebentar dengan beliau. Kupikir beliau juga mengajakku untuk berkenalan dengan anak itu karena lomba kami sama, tapi dia awkward banget.

Aku di sana agak gak enak gitu... soalnya Mereka saling pamer gambar. Saling menunjukkan skill, dan saya makin minder. Tapi tenang, kawan. Keminderan saya berdampak luar biasa. Saya makin optimis saya gak akan menang dan berpikir ENJOY AJA LOMBA TERAKHIR KAMU DI SMA~

Eh... Back to story.

Singkat cerita, hal terburuk terjadi. Tema diganti 5 menit sebelum lomba dimulai. Dari 'Tiba-tiba keluargaku hilang' menjadi 'Seandainya aku menjadi keluarga'

Aw, man. Berarti Challenger Cipta Cerpen dan Pujangga Populer Prestasian (CCC dan PPP) sumpah lu maksa banget Roh :v kemungkinan besar menghadapi masalah yang sama dengan kami. Otak saya langsung teriak: Kita dikasih tema gak bener di buku dan sekarang yang terlalu terpaku bakal gugur karena panik.

Kepala saya langsung mikir tema yang aku siapkan kemarin malam, dan gue emang rada kaget dan sejenak terpaku-- dan tanpa sengaja jadi impruvisasi.

Keluargaku 'hilang' tidak secara fisik, namun secara 'perilaku dan kasih sayang'. But well, kalau seandainya aku jadi keluarga, itu gak akan terjadi.

Bel ide di kepalaku mulai bunyi.

ding.

Ubah aja fokus plotnya jadi ending.

ding.

Dafuk. Kebetulan. Satu menit sebelum kertas dibagikan, saya punya plot dasar dan alur. Which means saya punya 4 jam full untuk eksekusi ide.

Aku merobek dua halaman dari buku sketsaku, satu berfungsi sebagai pengganti penggaris. (Tips ARKI Komik 2: Gak ada penggaris? Pakai kertas/ tisu/ cepuk.) Saya membuat storyboard - atau lebih tepatnya thumbnailing, soalnya storyboard buat film. Kurang lebih saya berhasil membaginya sebagai berikut:


Halaman pertama, prolog.

Halaman kedua, judul dan cover
(iya saya naro judul di halaman kedua. Kenapa enggak?)

Ketiga dan keempat, pengenalan konflik

Klimaks di halaman kelima dan enam

Tujuh dan delapan, resolusi dan penutup.


Btw teknik ini saya temukan saat saya menemukan 2 ide untuk penyisihan ARKI tahun itu. Setelah saya coba thumbnail, ternyata ide kedua bisa muat hanya dengan 7 halaman, sementara ide pertama butuh 9. Saya belajar untuk merencanakan karena saya pesimis bakal cukup halamannya gitu.

Kurang dari lima menit, saya udah selesai melakukan persiapan dan perencanaan jumlah halaman. Komik saya pas 8 halaman, dan saya gak mikir bahwa ini risiko tinggi. Saya bisa mengurangi resolusi dan penutup dalam satu halaman... gak usah lebay. Tapi detik itu pikiran saya cuma satu. Saya mau selesai.

Ide ini terlalu sayang kalau dijadiin novel.

Ide ini harus jadi komik.

Waktu saya mulai memindahkan thumbnail menjadi draft (cuma butuh 5 menit kurang), saya sadar kesalahan pertama saya.

Saya belum nyiapin nama.

Tapi saya gak mau buang waktu. Dengan berani bodoh saya mencolek teman yang mengerjakan komik di sebelah saya dan nanya, "Boleh saya pakai nama kamu buat karakter saya gak?"

Tips ARKI Cerpen dan Komik: Gak punya nama? Korbankan pinjam nama teman angkatan ARKI-mu

Thus...

...nama gadis yang 'kehilangan' keluarganya adalah Hafifah.

Semakin saya memikirkan tentang Hafifah, semakin saya teringat akan lagu Kokoronashi- nya GUMI. Semakin saya menyelam dalam kisah ini, saya bernyanyi. Ya. Saya menyanyikan versi bahasa inggrisnya dengan alternate lyrics-nya Jubyphonic, dan gak peduli orang lain denger atau enggak.

Sampai Hafifah sendiri protes pasca lomba:

"Iya nih, si Alia nyanyi terus pas lomba!"

Sori. Suara saya pasti jelek.

Saya gak inget detailnya, ya. Tapi ada yang saya paling inget. Satu hal yang bikin saya senyam-senyum sendiri pas ngebayangin itu lagi:

Saya baper. Saya baper terhadap karakter saya, dan tepat saat saya mengubah draft halaman ketujuh menjadi sketsa rapih, air mata saya jatuh di halaman tersebut dan membasahi gambar.

Aku menjerit. Oke, setengah menjerit - apa sih istilah bahasa Indo yang menyatakan 'teriak tapi mulut tertutup rapat'? Aku gak selebay itu, tapi aku langsung menghapusnya dengan sikut.

Sekali lagi.

Air mataku meluber di halaman ketujuh... paling memoriable pisan, bingits, sangat, kacida pokoknya!

Bayangin!

Saya berhasil mengalahkan tantangan tema yang diganti detik-detik sebelum lomba!

Saya berhasil memasukkan plot yang saya pikirkan dalam 8 halaman kertas!

Tapi saya gagal menahan air mata merusak kertasku karena aku baperan.


Btw itu gue yang pake kerudung
Tools yang bisa kelihatan di sana:
Cat akrilik hitam-putih (pengganti gouache), pensil 2B, Pulpen gambar, dan
white gel pen.

Selain itu, aku paling inget itu soalnya aku langsung minta tisu. Ini air mata gak mau stop, dan enggak berhenti sampai saya selesai inking. Kakak pembina yang baik hati ngasih aku tisu buat ngelap piring... yee, emangnya saya porselen mbak? (in case I forgot to tell: Lomba komik diadakan di ballroom hotel, tepat di meja yang kami pakai untuk makan siang/malam) Meski saya pikir... itu lebih baik daripada mengelap air mata dan ingus pakai kerudung berbahan crepe. Mending sekalian pakai amplas.

Ah, nostalgia.

Minggu, 02 April 2017

#ARKI2016 || Hari Pertama, Kesan Pertama, Parasetamol [2]

NAVIGATION
[Next Chapter] [Previous] [First] [Last]


Gua lupa bawa setengah dari hal-hal yang harusnya dibawa.

Waks.

Jadi pada awalnya, di ARKI 2016 ini saya kacau sangat, mungkin saya bisa list apa aja yang tertinggal saking banyaknya. Termasuk surat yang harusnya dibuat oleh kepsek. Tapi ya sudahlah.

Orang pertama yang menjabat tanganku di ARKI 2016 adalah Fani, (Vani? FINI? Sori, saya lupa cara ngetik namanya :v) Dia anak komik juga, saya senang sih. Tapi saya beneran gak bisa hafal nama teman dalam 6 bulan, left alone 5 hari.

Saya sumpah pelupa. Bukan artinya aku mau melupakan dia dan teman-temannya. Tapi saya beneran gak bisa hafal nama satupun teman sekelas saya dalam waktu 3 tahun waktu SD. Saya cuma hafal nama teman sekelas sepanjang SMP, dan selama SMA, saya hanya tahu sedikit dari anggota angkatan saya sendiri.

Jadi kalau orang-orang di ARKI kebanyakan saya adress dengan nama daerah atau nama lainnya, harap maklum. Saya gak hafal.

Okay, moving on.


Jadi karena saya salah satu orang yang diekorin sama guru sekolah (perwakilan yang mengantarkan saya adalah guru sejarah yang sangat lembut), saya agak awkward keliling-keliling. Barulah setelah beliau pergi, saya bisa berkelana dan berkenalan dengan orang lain.

Akan saya panggil mereka, Fani and the geng, karena saya kurang hafal nama mereka (dan kebetulan saya nulis ini dua minggu setelah ARKI tamat.).

Kamu bilang gak ke mereka nama pena kamu, Rohaluss?

Gak. Tapi saya gak mau nyimpen rahasia, jadi saya tunjukkin gambar saya yang pojok kanan bawahnya saya tandatangani dengan nama pena saya. Saya kaget mereka gak komentar soal nama tersebut... atau mungkin mereka gak sadar ada nama Rohaluss di sana :v

Tak lama setelahnya, ada seorang le petite  lady, seorang gadis yang mendekati kami berempat. Dia meminta untuk berkenalan.

Fani en de geng menyambut gadis itu dengan sesuatu yang... mengejutkan:

"Saya Jeniper lopes."

"Saya Milli Sirus."

Le me: *dalem ati* 'Dafuk temen ARKI saya narsis abis'

Merasa malu di tengah orang-orang narsis itu, saya melangkah melerai mereka. "Oke, serius. Saya Alia. Salam kenal, ya, cantik. Kamu siapa?"

Dia agak terbelalak. "Alia... Alia Salamah?"

Lalu dia menunjukkan nametag-nya. Mauren - Cerpen. Tenggorokan saya soak bacanya. Mau teriak tapi masa sih saya teriak? Ini di ballroom loh. Ini saya lagi di pojok ruangan tapi suara cempreng saya terlalu memikat, dan saya tau diri dan-- kalian ngerti lah.

Btw, ini yang terjadi antara aku dan Mauren sebelum hari pertama ARKI 2016:

MAUREN I'M SO SORRY ;-;

So yeah. Man, saya malah ketemu dia duluan gitu. Kan gak lucu. Tapi saya, dengan perasaan bersalah dan malu, langsung memeluk tubuh kecil itu sambil mikir dalam hati, 'Sialan, aku di dunia maya jahad banget ke orang'.

Yes, kalau kamu kenalan ke saya lewat medsos, saya cenderung tukang tabok. Di dunia maya saya mirip kucing, kok. Lembut tapi pingin nyakar mata kamu kalau lagi PMS.

____

Kita skip beberapa adegan sampai detik di mana saya kenalan sama banyak orang yang saya lupa namanya dan pergi ke acara 'pembagian kamar'. Saya... cepet lupa orangnya.

Kebetulan, Mauren udah punya temen jadi saya gak bisa ngajak dia. Alhasil, saya bertemu dengan Zahra. Kita sama-sama kelas 3 dan ini ARKI pertama dan terakhir kami.

Dia anak cerpen. Saya komik. Kita diskusi jadi enak, gak ada rahasia di antara kami berdua. Dia bahkan menunjukkan cerpen yang dia buat waktu penyisihan dan saya terkesan. Hastom harus belajar dari dia.

Setelah mereview cerpen dia... Saya yang sampai pada jam 11 siang menganggur sampai jam 5 sore. Kita gabut, kurja, dan merasakan apa yang namanya 'asa-gimana-gitu-didiemin-selama-enam-jam-nunggu-peserta-yang-belum-datang-kan-gak-enak'.

Saya sempet kontak Iruhan. Saya belum mau kontak Wheza saat itu, soalnya khusus buat temen saya yang satu ini... kalau mulai chat tentang nulis biasanya panjang (dan saya gak bisa keep up kalau udah gitu, maklum saya pakai HP). Hastom dan Andika Kaya ngerengek nanyain aku di mana (saya ada di kamar gak kemana-mana), dan saya haroream  menjawab pertanyaan itu.

Abaikan kejadian garing di atas

Well, skip to bagian dimana Saya dan Zahra terlambat datang karena gak tau jadwal, tau-tau pas kita datang ke Ballroom untuk vlogging orang-orang dah ngumpul. Lagi briefing. WTH, gak ada yang ngasih tau kita... ah, awkward. Dan hal ini disebabkan karena satu masalah kecil...

...aku dan dia tidak punya kontak pembina dan teman-teman lain.

Tips ARKI pertama: Pastikan kalian punya kontak pembina dan teman-teman.

Setelah briefing kami bersiap-siap untuk makan malam. Aku menghela napas pendek, capek pikiran dan malu karena datang terlambat. Tiba-tiba, aku mendengar sayup-sayup suara cowok memanggil namaku dari kejauhan.

'Alia.... Aliaaa!'

Owshiet, itu Andika Kaya.

Jadi aku datang menghampirinya. Dia gak tau wajah saya, jadi saya yang harus nyapa duluan. Hehe.

"Kamu... Rohaluss?"

Aku ngangguk sambil nyengir. Enggak enak dipanggil Rohaluss di dunia nyata meski saya ngumbar ke kalian PLIS PANGGIL AKU ROHIE ATAU ROHALUSS DI DUNIA MAYA. Beda rasanya. Beda banget. Dan itu lebih awkward daripada disuruh nyanyi goyang dumang di bis.

Dia enggak bilang apa-apa, langsung nyambar buku saya dan ia angkat tinggi-tinggi ke udara.

Detik itu, saya sadar dua hal paling bodoh yang pernah terlintas di kepalaku.

>Buset Andika Kaya tinggi banget.

>Buset gue pendek.

Saya perlu lompat untuk mendapatkan buku saya kembali, saudara, saking pendeknya tubuh saya. Untuk pembayangan, terakhir saya mengecek tinggi badan ukuran saya 155cm. Silahkan cari penggaris papan tulis satu biji ditambah setengah lagi. Nah, tinggi saya kurang lebih segitu.

Jadi kita ganti baju lagi. Satu hal yang membuat saya khawatir saat itu adalah saat Zahra jatuh sakit H-1 sebelum lomba. Enggak parah, sih. Dia cuma sakit kepala. Tapi saya harus mondar-mandir 4 kali naik 2 lantai cuma buat minta parasetamol ke kakak pembina. Kakak pembinanya gak peka sih.

Atau akunya aja yang kurang maksa biar diambilin parasetamol detik itu juga, soalnya skenarionya gini:


TES 1

Aku: Kak, minta parasetamol dong

Pembina: Kenapa, sakit kepala? Yaudah, nanti diambilin.


TES 2

Aku: Kak, saya minta parasetamol.

Pembina: Eh? Kamu sakit? Yaudah, nanti diambilin.


TES 3

Aku: Kak... em, temen saya sakit kepala.

Pembina: Perlu parasetamol? Yaudah, nanti diambilin.


TES 4

Aku: Kak, saya yang tadi minta parasetamol.

Pembina: Oh? Belum dapet? Yaudah tunggu disini.

*lima menit kemudian*

Pembina: Ini. Sekalian nih kayu putih. Bisa ikut pembukaan gak?

Aku: Bukan saya. Temen sekamar.

Pembina: OH. Tau gak siapa pembina dia?

Aku: *Koslet seketikah*



Oke, mungkin saya yang salah. Saya harusnya nunggu kakak-kakaknya dan tagih tiap detik gitu.

TIPS ARKI KEDUA: Bawa obat-obatan pribadi - dan yang ini jangan disepelekan. Lu bakal butuh.


Sampai mana saya? Oh ya.


Udah sih. Yang saya inget satu: Karena takut Zahra lupa shalat, saya melakukan hal bodoh seperti ini:

1. Tulis di sticky notes 'Jangan lupa shalat isya' di jam tangan Zahra

2. Tempel sticky notes dengan tulisan 'Ini air buat minum obat' di botol minumnya.

3. Menulis 'Ini obat' pakai tanda panah di meja sebelah tempat tidurnya.


Dan Zahra-nya tidur. Kan saya sinting.



BTW, ini video vlog hari pertama saya dengan Zahra (courtsey punya temen saya sendiri):

Sekalian yang penasaran gimana wajah saya hehe.


Sisa cerita ARKI 2016 dipost dua minggu lagi setelah UN SMA selesai
Hore, nunggu lama :v

#ARKI2016 || Pemberitahuan [1]

NAVIGATION
[PART 1]
[Next Chapter] [Previous] [First] [Last]

Gak ada angin, gak ada hujan, adanya twitter sialan yang kayaknya bakal PHP... disusul pemberitahuan ARKI 2016 yang mengatakan bahwa saya memenangkan lomba komik, masuk 15 besar, dan akan mengikuti pelatihan Akademi Remaja Kreatif Indonesia angkatan kedua.

Eh, serius. Twitter-nya seseorang *uhuk*yangbisakalianlihatdibawah*uhuk* itu agak nyebelin tau.

PUNYA KEMUNGKINAN NGE-PHP BANGET, KAN?!
APALAGI BUAT SAYA

Makanya, waktu lolos saya bingung, bahagia, dan kaget bukan main. Pas mau nge-share ke pembaca blog, saya langsung mikir dua kali.

'The hell, saya mau rahasiain nama saya gimana kalau saya mau nge-share acara ini?'

Nah.

Tapi tetep aja saya nulis ini, nanti kalau udah nerbitin buku saya post.

That being said...


Hai, nama asli saya Alia Salamah Nurfadillah.


Oke, kembali ke cerita.

Saya soak ngedenger berita itu. Banget. Dan lebih kaget lagi, tiga temen saya yang tahu nama asli saya di FB juga masuk ARKI 2016.

Ketiga orang ini adalah Andika, Hastomo, dan Mauren Okta.

Tapi saya cuma ngasih selamet ke Hastomo aja. Pertama, Andika terlalu mirip temen saya, jadi dia mungkin sadar sendiri.

Jadi yaudah. Saya ngasih kabar gembira ini ke sekolah. Guru saya, walikelas tercinta, Mrs. Aya, juga kaget. (sengaja bilangnya Mrs. Aya, soalnya kalau pakai Bu, nanti gak lucu) Soalnya ini ada stampel dari kemendikbud, yang artinya saya lomba lawan anak-anak satu Indonesia.

Daaaannnn.... entah kenapa, diumumin setelah apel pagi.

Um... pak?
Final belum jalan, pak, udah main umumin aja
Yang berteriak paling girang bukan saya, sih. Temen saya. Kurang lebih skemanya begini:


GURU: "Jadi, selama lima hari, Alia akan pergi ke Jakarta, mewakili EGS untuk berlomba di sana."

TEMEN: "BAGUS, PAK! BIARIN DIA GAK BELAJAR AJA! TERLALU PINTER DIA MAH."


*aku padahal remedial matematika dasar dan peminatan*

*tbh saya cuma pinter di kimia.*


Ya sudah. Dengan berat hati, berat jantung, berat kepala juga karena mikirin gimana nyusul pelajaran 4 hari karena sebentar lagi UN, saya mempersiapkan diri untuk berlomba melawan keempat belas peserta lain dari berbagai latar belakang dan berbagai kota yang tersebar di seluruh Indonesia.

But then, saya inget, ini mungkin lomba terakhir saya, ini mungkin kisah terakhir saya dalam usaha mengharumkan nama sekolah... jadi lebih baik bilang gak ah, sekolah mah urusan nanti dan nikmati saja. Buat apa sekolah namanya diharumkan. Kamu bentar lagi UN, dan ini terakhir kalinya kamu bisa menatap Creator Indonesia yang dikumpulkan di ajang ARKI ini.

Jadi emang saya gak niat menang-menang amat, kok.

Saya anaknya pesimis. Banget. Bakal dijelasin di kisah-kisah berikutnya, kok.

Mau tahu apa aja yang diobrolin satu sekolah ke saya?


'Al, kapan pergi?'

'Al, kalau menang traktir ya!'


Sementara saya, yang paling saya khawatirkan, adalah keadaan ikan cupang dan kura-kura yang setiap hari saya rawat, karena saya tahu teman-teman sekelas saya malas memelihara peliharaan kelas dan kura-kura sekolah cuma saya yang ngasih makan.

Rufi, si cupang merah-biru-item, dan sepasang kura-kura yang gak terlalu dirawat nasibnya gimana, ya?

***

Sabtu, 30 Juli 2016

Mengambil Inspirasi Dari Manga Untuk Novel - Kenapa Rohaluss Tidak Suka

Karena dari 5 novel FantasTeen yang terang-terangan menggunakan inspirasi dari animu, cuma ada 1 yang bagus.

Sisanya, entah itu mereka pintar dalam mencari inspirasi sehingga saya tidak sadar. And thats mean, There is a way to have Manga as your novel inspiration. Beneran ada caranya. Yah... yah...

...hanya satu dari lima buku itu angka yang cukup besar, loh.


Coret kata Review di banner ini
Ganti jadi 'RANT'

THE ROHALUSS FIRST OFFICIAL RANT in ROHIE'S JOURNAL
Manga as Novel Inspiration


DISCLAIMER:
Aku penggemar kedua jenis karya itu. Aku tidak terlalu mengelu-elukan novel maupun manga. Heck, I wrote both of it, meskipun saya amatir dalam keduanya. Tapi setidaknya saya tahu sedikit. Tolong jangan diambil terlalu banyak, kadang saya agak marah dan perlu menuangkannya saja.

Jika ada yang tersinggung, maka saya mohon maaf.


Kenapa aku tidak menyarankan pemula untuk mengambil inspirasi dari manga?

Sederhana. Meskipun memiliki banyak persamaan, keduanya memiliki karakter yang berbeda. Dan beberapa bagian bahkan sangat kontras satu sama lain sehingga tidak dapat digabung menjadi satu.

Sure, Manga sama seperti Novel. Menceritakan dan menyampaikan kisah pada orang yang membacanya.

Perbedaan pertama yang membuat mereka kontras, adalah cara penyampaiannya. Manga menyampaikan dengan gambar. Novel menyampaikan dengan tulisan dan kata-kata. Nah, masalah pertamanya juga ada di sini.


1. Kamu bisa dengan mudah memaksa imajinasi pembaca dengan gambar, tapi akan sulit dengan kata-kata. Coba kamu deskripsikan satu karakter ke 8 orang berbeda yang bisa gambar. Coba aja. Kalau gambar mereka mirip, syukur. Tapi kalau mendekati saja, yah... kamu udah jadi penulis yang bagus kok.

Kamu gak bisa maksa imajinasi orang, nak. Dan memaksakan hal tersebut di dalam bentuk tulisan, jika tidak berhati-hati hanya akan terkesan seperti infodumping dengan cara paling tidak profesional sama sekali.

But yeah, there IS a way. Cuma kalau saya bahas disini, nanti kepanjangan. Takut jadi tutorial, kan agak bangsat juga. Tulisan Imajinasi mau dikemanakan?


2. Kebanyakan novel remaja yang jelas-jelas mengambil inspirasi dari anime/manga itu KELIHATAN BANGET referensinya. Saya marah soal yang satu ini. Bukannya aku membenci ini sekali, tapi hei, plis deh. Ada batasan antara plagiarisme dan inspirasi. Kalau bisa, plis jangan disentuh, apalagi dilangkahin sedikitpun. Case in point, dua novel FantasTeen yang menggunakan percakapan antar dua karakter (persis banget, gila, sampai pakai urat aku nyelesain bukunya), dan karakter yang sama menggunakan hampir setengah plotnya mirip.

(Oke, ceritanya emang beda jauh. Salut untuk yang mendaur ulang plot. Tapi lain kali, setidaknya gitu, gendernya diubah, atau apanya diubah... Masih kelihatan referensinya jelas banget deh. Kan kzl.)

Dikutip dari blognya Mb. Balthazar (dengan perubahan banyak, soalnya saya males nyari link-nya), anggaplah karya penulis adalah seekor ayam. Kalau kamu curi, terus dijual dipasar, ya jelaslah kamu bakal dikeroyok warga. Saya juga mau nabok penulis yang kayak gini. Gak pantas disebut penulis.

Tapi tenang. Nyolong tuh, harus aman. Kamu bisa ambil referensi. Misal, pakai kaki ayamnya doang. Terus diolah pakai bumbu racikan sendiri. Disajikan dengan sambel yang kamu racik sendiri (atau nyolong dari kebun warga). Kelihatan gak, itu ayam yang kamu curi? Semoga enggak. Soalnya karya tulis tetap saja bukan ayam. Pinter-pinter ngolahnya.

Intinya, jangan sampai kamu sajikan dengan mentah. Kalau mirip banget, orang bakal curiga. Saya yang sensitif aja mau nabok penulis yang pakai percakapan tersebut. Yang kedua yang mendaur ulang plot enggak, saya salut sama keberanian dia. Cuma, kalau diulang lagi, saya beneran tabok. Pake Hell's Sword. Pinjem punya Wheza. Critical hit. Kalau bisa, sekalian Overkill.

Hint: Anime yang saya sebut di sini adalah Another (Horror anime)


3. Percaya atau enggak, bikin karakter di manga/anime dan di novel itu jauh berbeda. Orang mahaganteng mungkin bisa membuat pembaca manga terpikat, tapi di novel bisa jadi Mary Sue false alarm. Novel lebih realistik daripada manga/anime, jadi ingatlah bahwa tidak ada yang sempurna. Sementara itu, di manga (apalagi shoujo manga), ganteng itu sebuah atribut yang biasa digunakan. Gak aneh, apalagi terlihat menyebalkan.


4. Orang mengalahkan satu batalion musuh seorang diri di komik bisa kelihatan keren
Tapi di dalam novel (jika tidak hati-hati) malah Mary Sue. Malah, kalau mau alay sedikit, tanpa skill yang memadai, dan kamu mencoba tulis adegan anime di novel, jadinya kayak Deus Ex-Machina ditambah dengan sentuhan Narm.

Ini masih merujuk pada statement pertama paling atas. Kamu enggak bisa memaksakan imajinasi orang yang baca teks. Makanya saya tidak pernah menyuruh orang yang baca blog aku untuk mengambil inspirasi dari manga. (To be safe, that's it)


5. Ekspresi di anime dibuat-buat, terkesan hiperbolik. Jujur, saya ngakak bukan main saat membaca (yang ini saya seneng deh, mentionnya) Solvite-nya Hilmy An Nabhanny. Kelihatan anime-nya. Banget. Saya recomend banget buat baca ini kalau kalian mau tahu kenapa saya kurang suka mendengar 'inspirasi dari manga'.



And that's it, my rant has finally over. Thank you for reading.

Selasa, 22 Maret 2016

About The Writing Club...

Does anyone asks about Writing Club?

Well, I'm the admin-desu! #mendadakwibu

Pertama, aku akan jelaskan salah satu yang saya dijadikan admin pembantu... wZha Writing Club!


wZha Writing Club adalah grup menulis dimana saya adalah salah satu dari admin pembantu yang mereview, memberi tips menulis, dan mencoba menghidupkan tempat... soalnya admin utamanya males *ohok* Kita emang lagi hiatus, dan kemungkinan besar, tanpa persetujuan admin utama, gak ada yang bisa daftar masuk lagi.

Kenapa?
Entah. Wheza tergila-gila pada angka 99 sehingga dia ingin menciptakan klub beranggotakan 99 orang, despite things that will happens next.

Ceritanya panjang. Aku gak mungkin bisa ganti pikiran dia sedikitpun.

Apa saja yang diajarkan di sana?
Kita ada challenge bulanan yang lagi hiatus. Kita juga support kalau ada yang kirim cerpen... paling dibabat sama Iru dan saya kalau kalian bikin kesalahan yang bikin gatel. Kita juga terima request, dan konsultasi one by one dengan ketiga admin tertinggi (cailah).

Terus, disana bisa ngapain aja?
Kirim cerpen kalian, nanti dibabat sama admin pemerbaiki cerita, member yang lain saling support dan memberi masukkan... semoga.

Kalau mau masuk?
Izin Wheza. Wewenang saya hanya ada di mereview cerita yang diserahkan member.

BTW, sejak kejadian phising di sana, Wheza hati-hati dalam memasukkan posting. Untuk menghindari kejadian memalukan yang menyinggung unsur SARA, setiap posting yang masuk ke sana harus dikonfirmasi oleh admin. Eh, kalau dijelasin panjaaaanggggg.... deh. Pokoknya ada yang phising karena FB-nya dibajak dan jadnya heboh. Udah, gitu doang.



Kayaknya menarik! Gimana dong, aku tetep mau ikut!
Akan kucoba bicarakan hal ini sama Wheza. Dia juga mau hiatus setelah buku ketujuhnya, yang lagi di tangan penerbit untuk dikembangkan sekarang. Kemungkinan besar saya yang ambil alih. Atau Iru. Atau temennya yang satu lagi. Atau yang lainnya. Entah.

Pokoknya. Gitu.



Sekarang, writing club yang aku menjadi admin... dan sebenernya gak ada gunanya sekarang :v
Ini adalah grup saya sendiri! Gak ada gunanya sih selain update tutorial baru dan menerima request-request. Tapi nanti mungkin akan berkembang menjadi sebuah blog menulis yang lebih 'wah' lagi.

Untuk sementara, diskusi terbuka akan dilakuan di akun saya. Sampai jumlah anggota memadai untuk membuka diskusi, setidaknya...

Oh, tapi kalian bisa kirim cupkikan cerita, bertanya, dll. Saya insya allah jawab.

Eh, that's it.

I guess...

Sabtu, 27 Februari 2016

[INTERMEZZO] Izin Hiatus Maret! (Galau Naskah ditolak?)

Naskah Rohie ditolak!

Tenang aja, Rohie enggak akan berhenti nulis. Tapi Rohie mau recovery aja, mungkin komentar kalian gak akan dijawab. Mungkin aku bakal telat respon.

Maret ini aku hiatus. Aku mau asah kemampuan dalam hal yang paling aku benci. Semoga aku bisa, doain aja supaya aku kembali semangat!


P.S : Ceritanya bakal dipos-kan di Wattpad.

Rabu, 30 Desember 2015

[FB Discussion] Karakter Seperti Apa yang Bagus Menurut Kamu?

Akhir-akhir ini, saya memutuskan untuk membuat sebuah Facebook Discussion, dimana saya bertanya dan teman-teman FB saya menjawab. Pertanyaan minggu ini adalah 'Karakter seperti apa sih, yang bagus menurut kalian?'. Dan jawabannya, (meskipun saya cuma punya temen FB dikit :'v) lumayan bagus!

First off, saya dulu deh yang ngomong. Menurut Rohaluss sendiri, karakter yang bagus itu karakter yang punya keinginan, kelemahan, dan sifat yang mendukung. Tapi kelemahannya enggak sembarangan. Kelemahan itu adalah penghalang dia untuk mencapai keinginan, dan soal sifatnya... aku suka yang cliche, namun digabungkan dengan sifat yang agak 'beda'. Enggak perlu antimainstream, yang penting menarik.

Sekarang, ayo kita dengar jawaban dari orang lain!

My Junior from Junior Highschool!
Sepertinya memang antimainstream adalah sesuatu yang dihargai pembaca... ya? Tapi akhir-akhir ini semua karakter mainstream semua, jadi... Penulis, silahkan buat sesuatu yang antimainstream sendiri. Hindari klise? Uh, klise tidak dapat dihindari...

Lalu, satu komentar dari Writing Buddy saya bikin saya bener-bener ngerasa 'wah', gitu. Kalian inget orang yang pernah saya promosiin blognya karena dia nulis tutorial kisah horror? Apa jawaban dari dia?
Dia orangnya
Tapi blognya dihapus
Sabar aja, ya
*HAIKU by Alia Rohaluss~*
Kelainan! Itu kelemahan yang paling klise, tapi enggak pernah basi. (Sama kayak 'penyelamat bumi', sering dipakai tapi gak pernah basi! Selalu ada yang baru)

Temen gambar saya juga angkat bicara! *Nama disensor soalnya nama Google+ dan FB dia beda*
Uh, ya, dan saya takut dia ngamuk kalau nama aslinya keliatan...
Bohong deng. Pingin aja sensor nama sekali-kali mah :v
MAAF YA :v
Sepupuh sayah jugah ikuth komentarh *apa-apaan ini huruf*
....
Uh... karakter anime di novel... Ternyata masih ada yang suka. Jadi jangan takut. Meskipun kalian bakal saya gampar pada akhirnya karena karakter anime tidak terlalu realistik... *cough* maaf, saya kebawa emosi. Pastikan saja karakter anime yang kalian buat di novel cukup realistik untuk dibaca.

This is one of the best answer I ever got
No need description. 'sesuatu yang dipertaruhkan'... Itu membuat segalanya berbeda. SELANJUTNYA ORANG LAIN!!

Aku kaget juga ngelihat jawaban ini. Survey menyatakan bahwa karakter emo adalah karakter yang menarik.... juga indigo. Juga rada gila. Pokoknya misterius dan aneh adalah kombinasi yang... bagus? Yah, sekreatifnya penulis aja dah. Aku yakin kalian bisa, kalau mau.

Last, but not least, gua sempet debat sama penulis yang satu ini.
Sampai harus screenshot dua kali
Akhirnya... kita gak dapet kesimpulan yang solid :v
Tapi aku yakin kalian bisa mengambil kesimpulan dari kegajean kita berdua

Sip.

Itu aja untuk hari ini. Diskusi-nya selesai sampai sini, semoga kalian... mengambil satu-dua pelajaran.

Btw, yang gak temenan sama saya tapi mau ikut diskusi... saya berencana membuat fanpage Tulisan Imajinasi Blog. Menurut kalian kalau gitu bakal ada yang ikutan gak? Atau saya bikin sementara untuk teman-teman menulis dulu aja, terus di-share?

Plz halp.

Sincerly, Rohaluss yang lagi kena Writer Block

Selasa, 24 November 2015

Ghostbuster Erika Project [FERMENTASI]

Dengan diterbitkannya catatan ini ke media luas internet, Aku, Alia Rohaluss atau dengan inisial nama A.S.N, dengan kesal dan sedih, menyatakan bahwa proyek NaNoWriMo : "Ghostbuster Erika Project" (Horror-Fantasy) akan ditidurkan untuk enam (6) bulan ke depan.

Pernyataan ini mengharuskan saya sebagai penulis untuk berjanji bahwa cerita ini bukanlah cerita gagal, melainkan sebuah proses untuk mematangkan ide dan mencari jalan keluar untuk meramu ide dengan sebaik-baiknya.

Kesalahan ini mungkin akan terulang, namun dengan sebaik-baiknya saya akan menghindari ide yang tidak matang untuk diolah seperti ini.

Judul Proyek : The Half-Blooded Supernaturals (Erika Lowandow : The Witches)
Waktu Fermentasi : 6 Bulan
Tertanda : AliaRohaluss



Ahem.

Tenang, enggak berarti aku membuat cerita Erika Lowandow mati begitu saja. Ini sama dengan proyek Illedurien Story : Tenevinch. Mereka belum cukup 'matang' untuk diproses lebih lanjut, sehingga saya memutuskan untuk me-fermentasikan (itu istilah yang saya buat sendiri) cerita ini dan akan melanjutkannya saat ide ini siap pakai.

Apa maksudnya, ide siap pakai?

Ghostbuster Erika Project adalah cerita dengan plot yang hanya dibuat selama 2 minggu, sementara itu tema Horror sendiri adalah tema yang PERTAMA KALI saya buat. Saya kurang pengalaman, kurang referensi, kurang pemantapan diri... sehingga saat saya menulis cerita ini, saya tidak bisa menikmatinya. Saya merasa saat saya mengerjakan kisah Erika, saya menyeret tubuh saya sendiri hanya untuk menyelesaikan satu cerita.

Rasanya begitu terpaksa.

Kasusnya hampir sama dengan Illedurien Story : Tenevich. Bedanya ada dua.

Satu, saya menikmati menyiksa banyak karakter sekaligus, sehingga saat saya menulis cerita ini, saya merasa bahagia dan tidak tertekan.

Dua, sekarang saya punya gambaran mantap terhadap kisah Dema Tresnalic dan Shara 'Daryan' Warger. Saya sudah bertanya pada FR, apa saja yang membuat kisah Tenevich tidak mungkin terbit, dan masalahnya hanya sedikit. Untunglah, saya memiliki ide untuk menulis Regrets (Illedurien Story : Lidderiane) dan The Crazy Reality (A.K.A Reasons, dan juga bagian dari The Half Blooded Supernatural [Im Family : The Angel]) sambil menunggu ide Tenevich matang sempurna.

Sekarang, Erika akan ditidurkan, supaya saat ia terbangun saya bisa membangkitkannya menjadi cerita sempurna.

Semoga saya bisa mendapatkan cara untuk mengolah ide ini sebaik-baiknya, sama seperti Tenevinch.

Rabu, 28 Oktober 2015

Reasons : Update 2 (Curcol First Reader, Antara 2 Orang Yang Pernah Membantu Saya)

Iru : Oi, ini narasi serbatau jangan serbatahu banget. Coba terbatas satu karakter aja biar gak bingung yang baca.

Me : ...DAMMIT, SATU LAGI KELEMAHAN SAYA YANG KAMU TEMUKAN


Oke, jadi ada hebatnya kamu mendapatkan seorang First Reader yang lebih hebat daripada kamu. Satu, kamu belajar. Dua, kamu lebih cepat berkembang. Tiga, kamu dapet temen yang bisa kamu caci balik kalau dia seandainya nulis cerita.

Nope. Just kidding.

Tapi ada benernya.

Dan astaga, aku terbiasa dengan Point Of View Orang Ketiga Serbatahu.

Sekarang aku mungkin akan membiarkan POV Orang Ketiga SOKSerbatahu ini supaya ada perkembangan novel. And you can judge me from that. Karena... karena aku males usaha :v

Gak. Aku punya tiga alasan.

Satu, malas.

Dua, aku enggak tau caranya nulis POV 3rd Person Terbatas.

Tiga. Aku KADANG enggak tau Iruhan ini serius atau enggak, soalnya dia komentar kayak abang CinemaSins lagi mantengin blockbuster movie. Agak nyebelin, ada benernya, bingung mau diapain sampai harus 'difermentasi' (a.k.a mengolah ulang ide tersebut, didiamkan sambil dimatangkan baik-baik) sebelum diolah kembali.

But it resulted in better story, kita bisa mentertawakan novel ini dan kita saling bertukar ilmu dan... dan banyak lagi. Jadi First Reader macam dia tuh sebenernya cuma perlu dimengerti dan harus kuat dikomentarin tajam.

Karena dia orang baik.

Tapi jadi rindu FR Wheza dimana dia lebih banyak ngasih encouragement. Kerasa gitu bedanya antara dibimbing oleh dua orang yang berbeda. Satu orang adalah 'orang yang menghajar kamu supaya kamu tambah kuat' dan seorang lagi 'yang menuntun kamu supaya kamu bisa lebih maju'.

Wheza juga baik.

...Jadi...

Dan disini saya sadar betapa pentingnya peran First Reader.

Kalau enggak ada Wheza, aku udah berhenti nulis dua tahun lalu.

Sementara itu, enggak ada Iru aku enggak akan bisa nyelesain satu ceritapun.



Uh, jadi curcol gini? Curcolnya mirip pula dengan curcol sebelumnya.

Biarkanlah.

Pokoknya mengedit Reasons ini beneran jadi tantangan yang besar dan aku bisa bikin episode dua dari 'Tolong Jangan Tiru Kesalahan Saya' dot com

And Re-Build dari kesalahan di Regrets. Aku juga gak bisa diskusiin ini sama Iruhan ataupun Wheza, mereka sibuk akhir-akhir ini... mungkin.

Catatan lain dari perkembangan naskah Reasons : ...Sialan, aku perlu banyak latihan,



And another notes : Iklan bentar

Support Alief Wheza by BUYING HIS BOOKS (yay)
The Legend Of Hell's Sword
Halte Angker
Jawa Jejawen
Ghost Dormitory in Madrid
     Don't forget to visit his blog! : wheza99.blogspot.com
                                               

Visit Iruhan Special Review Pake Saos Sambel dan Pedes Gila di :
tofixamockingbook.blogspot.com

Uh, dan kalau dia udah nulis buku saya kasih tahu kalian semua. IRU CEPETAN SELESAIN ITU PROYEK, AKU JANJI ENGGAK AKAN GANGGU KAMU SOALNYA NASKAH KEENAM BAKALAN ANCUR TOTAL. SO NOPE. SAMPAI JANUARI KECUALI KAMU PENASARAN AKHIRNYA NOVEL HORROR-THRILLER AKU JADINYA GIMANA.

Oke, jadi intinya saya nyindir dua FR saya di sini dan saya mau kabur sebelum salah satu atau salah dua dari mereka sadar. Rohie out!

*Ya, kalau saya post artinya saya juga mau mereka tahu*
*Uh, complicated banget ya?*


*Dasar cewek*

Selasa, 20 Oktober 2015

Reasons : Update 1 (Next Script will Be Sent by Me!)

Jadi, um...

...Aku mau ngirim naskah kelima aku.


CEPET BANGET? Asa kemarin baru ngirim Regrets, da!


Haha, ini gara-gara 90 Pages 30 Days Chalange di wZha Writing Club. Jadi, selama 30 Hari, kita harus maksain diri buat nyelesain 1 FantasTeen novel. A.K.A 90 Halaman. Aku gagal di hari 30 baru menyelesaikan 89 halaman.

Siiaaaaaaallllll....

Sekarang udah selesai sih. Aku jadi maksain Iru buat baca first draft aku yang ngaco karena AKU MALES NULIS 3 KALI. Lagian aku cukup PD dengan kemampuan Iru dalam berkomentar dan kemampuanku dalam mengedit.



Jadi, apa isi dari naskah kelimaku?

Aku pakai lirik lagu untuk plot-nya. Kalau kalian suka dengerin Owl City, mungkin kalian tahu lagu judulnya The Real World. Interpretasinya tiap orang bisa beragam, dan aku berpikir tentang stress yang terlepas, dan masih banyak lagi saat aku mendengar liriknya.

Btw, ini liriknya yang menginspirasi cerita ini.


I saw the autumn leaves peel up off the street
Take wing on the balmy breeze and sweep you off your feet

And you blushed as they scooped you up on sugar maple wings
To gaze down on the city below ablaze with wondrous things

Downy feathers kiss your face and flutter everywhere
Reality is a lovely place but I wouldn't wanna live there

I wouldn't wanna live there!


Correct, temanya berlatar di Musim Gugur di suatu tempat di UK. Lalu, aku kepikiran sesuatu. Tentang imajinasi anak-anak. Tentang keegoisan orang yang berkata 'aku tidak mau hidup lagi di dunia nyata'. Gitu... jadi, ya, Don't blame me if the story brings some Person vs Self conflict.

I love to take this song literally. Jadi bakalan ada makhluk bersayap di cerita ini.

Em... kalau enggak diterima, siap-siap cek wattpad saya.





RSJ? RS? Bakalan sadis atau menyeramkan?
Gak. Tapi aku emang suka nulis mayat, jadi sedikit bumbu seram. Kalau Regrets diterima penerbit, anggaplah aku masih gak bisa move-on sama cerita itu.


Romance?
Hahaha... sadly, yes. Tapi lebih banyak Family. Rencananya aku mau bikin cerita yang ada manis-manisnya. Tapi Iru teriak 'THIS IS ROMANCE. WITH FEATHER FETISH AND CORPSE'. So I was just like...

...Nope. Let me edit that pls.


Jadi, kenapa kamu memutuskan untuk mengambil lirik sebagai ide cerita?
Aku mabok kayu putih, Jangan tanya kenapa. 

Nope. Of course it's a joke.

Mungkin karena Iru bilang aku punya gaya bahasa yang mengerikan dan cocok untuk horror. Aku hanya berusaha keluar dari zona nyaman. Kebetulan, lagu yang aku suka hepi semua. Jadi kuputuskan untuk mengambil generator ciptaanku dan pilih secara enggak acak.


Will it be horror?
A little, a sminch of horror and lots of family, physicological things and love.


Kapan dikirim?
Secepatnya. Sambil nunggu info seputar kapan kepastian Regrets bakal ditolak/diterbitkan.



ROHIE OUT

Jumat, 28 Agustus 2015

Regrets, oh Regrets vs Reasons....

...Stupid.

I mean, really. Really stupid.

Aku udah mulai nulis chapter pertama dari naskah keempat (pertama dan kedua pernah ditolak penerbit dan aku enggak mau bicarain lagi) saya. Kenapa enggak ke-dua puluh satu? Karena kebanyakan ceritaku enggak selesai dan enggak mau diterbitin. Jadi, ya, ini yang keempat.

Dan saya edit naskah ketiga hari ini supaya bisa dikirim minggu pagi.

Tahu apa yang terjadi?

Aku sadar tulisan aku di calon novel saya, Regrets, terhitung jelek. Jika dibandingkan dengan tulisan saya yang keempat, berjudul Reasons, tentu saja. kau tahu betapa buruknya itu?

Sekarang aku gila, pingin ngedit ulang cerita ketiga aku, tapi mungkin itu akan memakan waktu sebulan. Sialnya, Sebulan lagi NaNoWriMo. Aku perlu menyiapkan ide selama sebulan supaya tahun ini aku bisa tuntas menulis 50.000 kata! Ah, sial, kenapa aku sadar tulisan aku jelek pas waktunya NaNoWriMo.

Tapi itu patut disyukuri sedikit, bukan?

Artinya aku ada impruv.

...ah, aku pingin bilang buku pertama aku enggak akan semaksimal buku kedua, but that'll be a lie. Regrets bakal sengaja naro 2 kesalahan major (karena aku enggak tau cara memperbaikinya) tapi, ya... gitulah.

Kan bisa dijadiin tutorial : Cara Salah Menulis dari Kesalahan Saya Sendiri

Duh.

Kok jadi pengakuan dosa gini?

Udah ya, Rohaluss out. Udah malem mau bobok terus ngedit lagi.

Senin, 24 Agustus 2015

Well, I Lose. WE BOTH LOSE.

Inget pas aku pernah bilang aku dan Iru lomba menulis bersama?

Yah... berita buruk. Aku kalah.

KITA BERDUA kalah. Enggak ada yang selesai. Sekarang aku harus memberikan hadiah untuknya. Dia juga, tapi ya... entahlah. Aku ikut cuma buat semangat nulis.

Jadi, ini hadiah yang aku kasih ke Iru-kun. Hope you like it, because I DON'T. I HAVE TO CHANGE HIS HAIR COLOR TWICE, DAMMIT.
Still, it's worth of it
Do you guys like him?

Kamis, 16 Juli 2015

Race of Writing : Me vs Iruhan Hizura

Suddenly, Iruhan mengajakku untuk bertarung - ahem - berlomba dalam menulis.
Batas waktunya sampai masuk sekolah - tanggal 27 nanti.

Aku harus menyelesaikan novelku sementara dia menyelesaikan tugasnya sebelum waktu yang ditentukan.

Tentu saja ada konsekuensi bagi orang yang tidak berhasil. Y'all can guess.

Aku akan mengumumkan hasilnya disini.


Rohaluss out.

Sabtu, 23 Mei 2015

Portofolio buat Rapor Sekolah? God...

Suddenly, tiba-tiba, gak bisa diprediksi, sekolah aku nyuruh bikin photofolio buat ditaro di belakang rapor sekolah.

And I was like; "WTF, School, we are not looking for a job!"

Tapi apapun itu, rasanya kan gak enak. Aku terkenal di dunia maya dengan nama Alia Rohaluss, dan selamanya akan terus seperti itu. (inginnya sih begitu) Tapi karena aku harus memasukan nama, blog, aktifitas diri, hasil karya dan lainnya, aku berarti harus memberikan blog-ku kepada sekolah! DAN KALIAN JUGA PASTI TAHU AKU KE SEKOLAH PAKE NAMA ASLI BUKAN ALIA ROHALUSS!! *rage mode on*\

I guess this school can keep my secret... so...

Ah, barangkali kalian nanya, iya, di sekolah aku pake nama panggilan, (lebih sering dipanggil Supreme Leader a.k.a Alia Kim Jong Un), atau nama crappy yang aku jadiin panggilan di FB. Tapi Alia Rohaluss hanya ada di Dumay bagian Blogging dan Illustrating.

Rohie is just a roh of the web. Alia yang lain adalah Alia yang nyata. Dan soal Alvy si AlveixGirl26, dia udah lenyap dari dunia ini. Tolong jangan tanya-tanya lagi soal dia padaku. Dia memang gadis manis yang menghabiskan hidupnya di dalam ruang tertutup, dan kehilangan dia membuat Author Aliance kehilangan tangan yang selalu membuat kami tersenyum.

I am Rohaluss, but I only exist in this fake world.


Back to the Photofolio yang bikin stress ini...

Rohie bakal pasif blogging sampai juni akhir karena potofolio ini. Sorry, guys. I have a life to do. If you miss me, or if you have something to ask or you want to request tutorials, please do.

Saya pergi dulu.

;)

Kamis, 14 Mei 2015

[Reference] Variasi Phobia dan Ketakutan Untuk Karaktermu!

Because brave characters are too mainstream, you can add some spice and make them perfect.

Rasa takut, selain menjadi bahan karakterisasi yang bagus, bisa menjadi penambah konflik, penambah rasa karakter, juga membuatnya semakin menarik! Tidak tahu rasa takut pada apa yang bisa kalian tambahkan? Jangan khawatir, Rohaluss disini akan memberi kalian ide!

Eh, harusnya ini di TI, ya?

Biarlah.

1. DIABAIKAN / DITINGGAL
Rasa takut akan diabaikan atau ditinggal akan membuat karaktermu berusaha sekuat tenaga untuk mendapat perhatian besar. Juga, rasa takut akan diabaikan bisa membuat karaktermu lebih rentan terhadap rasa kesepian, iri, dan juga rasa stress.

2. AMNESIA
Orang-orang yang takut akan kehilangan ingatannya adalah orang yang merasa ia adalah orang paling bahagia di dunia. Atau sebaliknya, ingatannya yang indah sangat berharga baginya karena ia sedih. Bagaimana orang yang phobia amnesia akan bertingkah?

3. JADI ORTU
Aw, but my character is going to marry someone! So what. Yang penting sekarang ada konfliknya!

4. JADI JAHAT
Phobia jadi orang jahat lebih menyeramkan daripada phobia orang jahat. Coba pikirkan sifat negatif yang didapatkan orang saat ia takut dirinya akan menjadi orang yang kejam.

5. SENDIRIAN
Because fear of jones is being popular lately.

6. PETIR
Karena petir membunuh.

7. KESETRUM
Karena kesetrum bisa berbahaya, bahkan menganggap listrik itu amat sangat berbahaya, dan segalanya dianggap berbahayaaaaaa.....

8. DISENTUH
Gwaaaaah!! JANGAN MENDEKAT!! JANGAN SENTUH AKU!!!

9. TAKUT DITATAP
And I've been suffering this for 4 years. How weird is that? Kadang aku masih berpikir bahwa orang-orang yang menatapku ingin membunuhku. Yah, paronia tingkat luar bi(n)asa. Sekarang sih udah enggak. Syukurlah.

10. TAKUT TIDAK MEMILIKI TEMAN
...

Tambahkan phobia kalian di bawah kalau kalian nyuri...eh, ngambil dari sini, biar yang lain bisa terinspirasi juga!

Rohie out.

Jumat, 01 Mei 2015

Curcol Seputar First Reader

Gak ada angin, gak ada ujan, eh tiba-tiba perkejaanku berkurang satu.

Tiba-tiba saja, Wheza bilang kalau dia nemu First Reader.

Entah mau gimana bilangnya. Rasanya agak... gimana gitu. Antara seneng dia bisa nemu Reader yang enggak terlalu kritis kayak Iruhan, juga sedih enggak bisa ngasih masukan lagi sebelum novel dia terbit.

Bagus, sih, aku turut senang dia menemukan First Reader yang bukan Iruhan. *cough* Maaf Iru-kun. Aku jujur. *cough* Iru udah selevel boncabe level neraka. Kritik pedesnya cukup untuk mem-bombardir satu fandom. Cukup untuk membuat buku rating biasa di FantasTeen jeblok. Percayalah, novelku pernah gak maju sebulan karena dia, saking parahnya critical comment dari dia.

Sebagai pembaca yang mengamati perkembangan penulis, Wheza adalah salah satu yang paling aku perhatikan. (Posisi pertama di atas Tessia dan Akbar) Cara menulisnya masih menggunakan imajinasi, jadi kalau dia diberi FR yang sama denganku, yang punya masalah 'rasa takut', dia malah akan terkekang.

*tepok pundak Wheza* Aku ngerti kok. Tenang aja. Keputusanmu sudah tepat.

...dan buat Iru! *gampar pundak* *pukul wajah* YOU KNOW YOUR PROBLEM, SON.

***

Ahem. Lalu, ada lagi, aku. Support yang kubutuhkan saat menulis berbeda jauh dengan kedua Writing-Pals ini.

Wheza, seperti yang ku-mention di atas, membutuhkan freedom menulis dan menggila dengan dunianya...

Sementara itu, Iruhan...yang butuh perencanaan matang, dan support dari Tropes dan kawan-kawannya untuk membuatnya waras, juga dosis dari Rant buku FantasTeen, plus FikFanIndo, plus- *slaps*

Aku adalah penderita rasa takut berlebih. Meskipun mulutku terus berkata, "Ah, cuma ditolak dua kali". Namun tetap saja, setiap kali aku mencoba menulis lagi, aku merasa takut hal sama akan terulang. Ada istilah "Kamu tidak bisa membohongi dirimu sendiri", dan itu memang benar. Berkali-kali aku bilang, 'tidak apa-apa', namun tanganku dan kepalaku sadar bahwa aku sedang berbohong.

Jujur, aku bahkan pernah berkata "Aku berhenti. Aku tidak bisa."

Tambahannya, sih, emang terlalu positif, "Baik, mungkin aku tidak bisa. Tapi aku tahu aku pernah menulis. Aku tahu hal yang membuatku gagal dan apa yang penulis lain harus perbaiki. Aku akan melanjutkan Tulisan Imajinasi. Toh, kalau aku bukan penulis, tidak berbakat, aku akan membantu penulis masa depan begitu."

Sampai aku bertemu dengan penulis yang iseng komentar di blog super-gaje ini.

Dia orang pertama yang membuatku mulai menulis lagi. Orang pertama yang membuatku mulai menulis kembali, orang yang membuatku semangat menulis kembali, dan akhirnya, saat naskahku selesai, muncul masalah baru.

Aku betul-betul takut ditolak. Lagi.

Aku berani sumpah aku cuma nulis 3 sampai 5 chapter setelah selesainya novelku. Ada 13 cerita yang tak terselesaikan. Ada kisah yang absurd abis (Java Underground, contohnya, berpetualang dengan Sangkuriang dan Nyi Roro Kidul. Astaga) sampai yang epic (Illeriane Stories), juga yang worldbuilding-nya terencana (Stole Your Friends, judulnya astaga abis). Tapi aku enggak berani.

Then, there is him.

Seorang teman dengan pengetahuan menulis yang luar biasa, yang berhasil mengoreksi kesalahanku, dan membuatku lebih percaya diri mengirim naskah. Dia memberiku banyak masukan, cara dan teknik dalam menciptakan intrinsik cerita yang kompleks, dan juga, yang terpenting, mengurangi rasa takutku.

***

Kalian tidak butuh semua bantuan yang ada.

Kadang, First Reader yang kamu dapatkan hanya akan menyeretmu, menahanmu untuk menulis lebih lanjut.

So, yep. Dah. Sampai nanti kawan. Curcol? BIARIN. YANG PENTING MINTZZZZ.

Jumat, 17 April 2015

CerMinDar : Weekly Event By DarMizan Ternyata...

*facepalm* Plis deh, jangan bikin aku kaget lagi.

Tiba-tiba, ajaib, meneketengteng dan secara mendadak, FantasTeen dan PBC menyelenggarakan lomba yang disebut dan diberi hashtag #CerMinDar atau singkatan dari Cerita Mini Dar Mizan (sepertinya). Aku seneng bisa ikutan secara tenang karena aku menggunakan facebook-ku yang terbuka untuk banyak orang yang mau nge-add. Bukan yang pake nama asli.

(Yeah, so, you can add my new account, dan jika seandainya kalian tahu nama asliku, please keep that secret.)

Back to the point CerMinDar...

Masalahnya, banyak orang yang seenak hati seenak dengkul *wat* nulis tidak sesuai ketentuan yang telah ditetapkan di FP FantasTeen atau/dan PBC. Ya ampun, kalian ini!

Alhamdulillah aku diingetin Iruhan! *ehloh*


Oke, jadi, apa saja yang dilanggar? Apa aja ya...

Kesalahan yang paling banyak yang kulihat adalah kesalahan teknis. Peraturannya tertulis bahwa : Cerita tidak boleh lebih dari 20 kata. 20 KATA ITU SEDIKIT (iya, ini Rohaluss juga ngerti kok) dan kalau pake twitter, enggak boleh bersambung. Cuma boleh 1 tweet yang berkisar antara 140 huruf.

Lha, ada yang nulis lebih dari dua puluh kata.

Ada yang malah curcol (tapi itu enggak masalah. Justru menarik)

Hm....



Kalian tahu tidak, kalau ternyata chalange yang ditulis oleh Dar Mizan ini bisa membantu kalian dalam menulis plot?

20 kata adalah batas yang amat-sangat kecil untuk merangkai ide sepadat mungkin sehingga 20 kata bisa membuat pembaca merasa penasaran. Merasa bahwa kisah ini walau pendek membuatmu tersenyum lebar...

...dan jika digunakan dengan benar, ini bisa menjadi sebuah plot kisah baru!

Dua puluh kata yang kau tulis di sana bisa dikembangkan menjadi kisah yang lebih panjang. Ini agak mirip dengan plotting dengan cara snowflake, hanya saja lebih... lucu. Lebih keren juga, sih. Setidaknya, satu kata, jadi satu kalimat, jadi sebuah ide dan bisa jadi novel baru.

Oke, siapa yang ikut tantangan Dar Mizan disini, angkat tangannya!!

Rohie mau ambil kertas dulu sambil re-read Absolute Zero-nya Fauzi. Ciao!!

Selasa, 31 Maret 2015

Ah, Yes, About The Fanart...

Aku tidak tahu berapa lama kalian menunggu Fanart Absolute Zero dan The Mysterious Murder yang kujanjikan.

Insya allah, bulan April ini atau bulan depannya, Mei (Ulang tahun Rohie! Wooo!).

April aku lagi mau fokus NaNoWriMo Camp. Ada yang ikutan juga? Rohie-tan, Wheza-kun dan Iru-kun (wait, aku ketularan Weaboo-nya) ikut dalam acara menulis dalam sebulan penuh ini. Apa dia akan ikut? Hm... Wheza suka lupa tanggal dan Iru-kun sudah mengatakan bahwa dia hanya akan ikut setengah jalan. Do'a kan aku semuanya!!

And, for concept, aku akan coba :

1. Absolute Zero
Arus Revoir, dengan kamera di tangan, bersembunyi di balik gedung, agak melirik. Mungkin hal yang paling berkesan dari kisah ini (selain kematiannya) adalah kisah seorang wartawan yang mengoyak tabir kebohongan media massa.

(seriously, tho, aku sebenarnya bingung karena Fauzi. FantasTeen itu novel remaja, kan? Kalau kalian gali novel ini lebih dalam... spoilers 'Kisahnya tentang konspirasi media massa, perang global, penipuan rakyat menggunakan media... ini novel temanya berat abis')

2. Mysterious Murder
Aku ingin menggambarkan pria perenggut jantung. Itu aja, sih. Mungkin sambil menunduk, menatap tajam yang melihat dengan mata yang warnanya kontras.


That's it. Kalau eksekusinya gagal, yaudah, deh. Aku udah capek. Dadah, semuanya! Rohie mau tidur sejenak sambil nulis novel...

Rabu, 25 Maret 2015

Mengkhawatirkan Skill Bahasa Inggris...

Tiba-tiba aja, blog ini diisi sesuatu yang serius bukan main. Haha. Enggak, ini emang serius. Harusnya tempat ini diisi update buku FantasTeen dan perjalanan seorang Rohie alias Rohaluss untuk menulis sebuah novel.

Tapi aku harus nulis ini. Harus.

Dimulai dari mana, ya?

Ah, kejadian itu aja, deh. Biar gak garing cerita di blog ini.

Aku adalah salah satu dari sekian banyak orang di sekolahku yang bisa menggambar dengan lumayan bagus. Kalian harus catat itu.

Hari itu, kami disuruh duduk, dengan kakak kelas dan teman sekelas digabung dalam satu kelompok berjumlah minimal 5 orang. Aku duduk bersama dua kakak kelasku. Sayangnya, aku angkatan kedua, jadi belum ada adik kelas.

Sang guru ini menyuruh kami menulis dua kelebihan dan satu kekurangan teman dan kakak kelas yang satu kelompok denganku. Sampai sekarang masih bagus, ya. Dalam bahasa inggris. Oke, tidak masalah.

Kami mulai menulis! Sret-sret-sret...

Lalu, kita disuruh membaca apa kelebihan dan kekurangan yang ditulis kakak kelas dan teman sekelasku. Sebenarnya, tidak mengejutkan kalau mereka menulis 'lack of social'-blablabla dan yang paling parah, 'Always go alone, sit and do nothing, until everyone thinks you are weird'. Eh.. Hei... yang bener aja...

Tapi yang paling parah, ada dua orang (DUA, mind you) yang nulis kelebihanku itu 'A good drawer'.

Drawer.

Drawer.

Bukan artist, bukan illustrator, tapi DRAWER. Bentar, kawan. Sejak kapan aku berubah menjadi LACI?! And to top of it, teman-teman sekelasku enggak ada yang ngaku itu tulisannya!

Berarti... kakak kelas, you don't...


Ah, aside of that, minggu berikutnya kita juga disuruh mengerjakan soal bahasa inggris 60 biji pake standar apa, gitu. TO, lah, katanya. Aku sih, yang lumayan bisa bahasa inggris enjoy-enjoy aja. Toh, soalnya A-B-C-D, pilihan ganda, dan itu emang agak sulit sedikit. Lebih susah daripada TOEFL, tapi namanya juga ICAS. TOEFL waktunya lebih banyak, dan soalnya standar grammatical gitu, agak mirip UN dikit.

Nah, ICAS, ada potongan karya Shakesphere di tengah-tengah soalnya.

Serius. Kita pake ICAS yang tahun 2012 paket G, difoto kopi buat soal TO. Tapi bukan berarti itu sulit, loh. Ada yang gampang, ada yang menjebak, ada yang bikin tableflip setengah mati, tapi enggak jadi alasan berhenti di nomor dua puluh, kan?

*sigh*

Tidak, aku berhasil menjawab semua soalnya, walaupun ada 10 soal yang 'ngebatik'.

Serius.

Mungkin cuma aku, tapi sekarang aku mulai mengkhawatirkan skill berbahasa inggrisku dan teman-temanku...

Sabtu, 21 Februari 2015

Preperation [1] | Ngirim E-mail Ke Penulis [Lussy Kurang Kerjaan] #2

Hoi hoooiiii! Lussy kembali dengan berita bagus! Lus the Cat akan mengirim E Mail ke empat penulis yang Rohaluss pikir telah mengalami perkembangan yang luar biasa!

Bukan, bukan (kak) Fauzi. Aku maksa manggil dia dengan sebutan kak padahal aku alergi honorifics di blog. Dia sudah kukirim email dan aku berharap dia menulis lagi. Gatel pingin tahu idenya. Apalagi setelah jatuh cinta sama beberapa karakternya yang luar biasa! Yeaaaahhhhh!!!

Siapa saja keempat orang itu?


WARNING : Sharp comment included.



1. Tessia yang membuktikan bahwa satu kelemahan fatal dapat ditutupi dengan hal lainnya.

Jujur, dalam hal menulis novel horor, hal yang paling sering diabaikan penulis FantasTeen, termasuk Tessia, adalah membawa kita dalam rasa takut. Orang membeli novel horror untuk merasakan thrill dikejar, rasa takut, dan... kau tahulah. Namun, Tessia tidak menunjukkan hal itu. Namun, secara mengejutkan, bukunya amat sangat luar biasa karena memiliki sesuatu yang jarang di.

She focused on the Storyline. Dan kuakui, (sayangnya) jarang ada penulis fokus pada kisah dan hanya menulis "Ada sekolah dengan hantu." Kayak PBC dengan sentuhan hantu doang. Tapi dia beda. Storyline nya, walau aku bisa menebak plot twistnya (dalam novel berjudul Alive) sejak halaman pertama, tapi dia bisa merangkai kata dan menunjukkan bahwa novel itu punya kisah. Enggak flat, gitu loh...

...Enggak kayak PBC yang akhir akhir ini kisahnya itu itu aja. Mungkin karena penulisnya terlalu banyak, ya, sampai akhirnya aku bosen?

Cerita buatan Tessia serem gak? Enggak.

Bagus? Luar biasa bagus.



2. Hilmy an Nabhany (tapi aku gak niat ngirim email ke dia sampai karyanya yang lain muncul) yang telah menunjukkan perubahan dan perkembangan signifikan dalam grammar dan story building dari novel FantasTeen pertamanya, Solvite, sampai karyanya yang diterbitkan bersama (dalam edisi FantasTeen Lux).

Serius. Kalau kisah kayak Z**** and the ***** of ***** itu kurang baik dan laughable, Solvite bahkan jauh lebih buruk. Antara bagus dalam ide, namun cara penyampaian yang buruk, logika yang bikin geger otak, plus EYD (Ejaan yang Dirusak) nya sangat bagus.

Saat aku baca karyanya di FantasTeen Lux, aku langsung berteriak, "Dafuk, ini penulis yang itu?!"

Perkembangannya menulis itu sangat luar biasa. Perkembangannya patut dikasih jempol empat buah. Cuma kalau emang dikasih jempol, nanti mungkin dia bakal teriak ketakutan. Dan jempolku nanti abis. Pokoknya, dia salah satu dari tiga penulis yang perkembangannya cantik sekali.

Tapi kalau seandainya (Kak) Hilmy baca ini, satu hal lagi deh. Kau masih lupa beberapa hal, seperti memisahkan antara paragraf dan percakapan! Jangan diulangi, awas aja loh! Aku bukan salah satu pembacamu, tapi aku memantau kalian bertiga



3. Akbar sama seperti Hilmy. Dia adalah penulis yang bikin aku stress pas baca buku FantasTeen pertamanya, Haunted School. Karakternya lumayan flat. Kurang bisa mengaduk emosi. Kayak cerita biasa dikasih unsur horror dikit. Yah, ibaratnya kayak jalan lurus dikasih hiasan aja. Ngeliatnya agak bosen. Dan jujur, aku enggak baca semua kisahnya. Paling, "Oh, ada hantu." Yaudah. Dan Character di buku itu... saking flat nya ibaratnya kayak karton dicetak orang terus dikasih nama.

Tapi semua itu berubah, saat aku bergabung di grup buatan orang keempat di list ini. *baca dengan nada Legend of Aang*

Reaksi aku ngeliat cuplikan novelnya sama kayak ngeliat tulisan baru Hilmy...

...cuma karena aku sempet nge backlist dia di daftar penulis idaman, jadinya aku lebih heboh lagi.

Penulis cowok tuh gila abis, emang, kalau berkembang susah dikejar. S***a aja susah dicari perkembangannya dari buku pertama dan kedua. Jangan tanya siapa nama dari yang disensor itu. Dia udah nulis banyak buku dan aku gak mau mencemar nama baiknya.



4. Wheza adalah salah satu penulis yang bikin menghela nafas. Hei, Whez, jangan marah dulu. Sudah kubilang kalian bertiga penulis cowok yang sama aja. Aku curiga kalian lagi lomba gitu. Tapi gak lucu juga.

Dari ketiga anak dengan perkembangan menulis yang signifikan, memang Wheza yang paling lambat. Akbar udah nulis sekian buku, nak, dan debut nulis kalian cuma terpaut setahun. Atau lebih...

...lupakan. (Ini sengaja ini biar kamu semangat, nak)

Tapi dari ketiga penulis dengan perkembangan, Wheza adalah satu satunya penulis yang bisa kupantau lebih dekat. Sedikit demi sedikit, gaya menulisnya meningkat. Bahkan pada saat dia mengirim naskahnya padaku (I'm his first reader, FYI), ada satu saat dimana aku merasa dia sudah tidak butuh bantuanku lagi. Masalahnya tanda baca aja, suka kelupaan karena aku kadang maksa dia buat liatin naskahnya.

Yes. Wheza, sekali lagi tanya bacamu salah aku bacot kepalamu. Karena kau yang paling aku pantau, jadi aku tahu kalau kemampuan nulis kamu malah jadi nurun.



Aku bisa ngundang Wheza untuk berkontribusi dalam Tanya Jawab Penulis yang akan diadakan di The Journal of Rohaluss. Masalahnya yang lainnya gimana, ya? Hmm...

Kalian mau gak aku kirimin semua orang di atas untuk merespon kelemahan mereka dari analisis singkatku terhadap mereka? Plus tanya jawab lainnya, tentu saja.

TERUTAMA TIGA COWOK GILA YANG PERKEMBANGAN TEKNIK MENULISNYA RADA MELAMPAUI KECEPATAN RATA RATA JALAN TOL!! *apa*

Aku berharap mereka punya akun Google+ biar bisa share teknik menulis dalam sesi "Author Q n A"

Tapi da akumah apa atuh... ;'')

Lussy out!

Dan kalau ini terlalu menyinggung, silahkan komentar di bawah. Langsung aku hapus. Suer.