Tampilkan postingan dengan label Chaptered. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Chaptered. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 April 2017

#ARKI2016 || Hari Pertama, Kesan Pertama, Parasetamol [2]

NAVIGATION
[Next Chapter] [Previous] [First] [Last]


Gua lupa bawa setengah dari hal-hal yang harusnya dibawa.

Waks.

Jadi pada awalnya, di ARKI 2016 ini saya kacau sangat, mungkin saya bisa list apa aja yang tertinggal saking banyaknya. Termasuk surat yang harusnya dibuat oleh kepsek. Tapi ya sudahlah.

Orang pertama yang menjabat tanganku di ARKI 2016 adalah Fani, (Vani? FINI? Sori, saya lupa cara ngetik namanya :v) Dia anak komik juga, saya senang sih. Tapi saya beneran gak bisa hafal nama teman dalam 6 bulan, left alone 5 hari.

Saya sumpah pelupa. Bukan artinya aku mau melupakan dia dan teman-temannya. Tapi saya beneran gak bisa hafal nama satupun teman sekelas saya dalam waktu 3 tahun waktu SD. Saya cuma hafal nama teman sekelas sepanjang SMP, dan selama SMA, saya hanya tahu sedikit dari anggota angkatan saya sendiri.

Jadi kalau orang-orang di ARKI kebanyakan saya adress dengan nama daerah atau nama lainnya, harap maklum. Saya gak hafal.

Okay, moving on.


Jadi karena saya salah satu orang yang diekorin sama guru sekolah (perwakilan yang mengantarkan saya adalah guru sejarah yang sangat lembut), saya agak awkward keliling-keliling. Barulah setelah beliau pergi, saya bisa berkelana dan berkenalan dengan orang lain.

Akan saya panggil mereka, Fani and the geng, karena saya kurang hafal nama mereka (dan kebetulan saya nulis ini dua minggu setelah ARKI tamat.).

Kamu bilang gak ke mereka nama pena kamu, Rohaluss?

Gak. Tapi saya gak mau nyimpen rahasia, jadi saya tunjukkin gambar saya yang pojok kanan bawahnya saya tandatangani dengan nama pena saya. Saya kaget mereka gak komentar soal nama tersebut... atau mungkin mereka gak sadar ada nama Rohaluss di sana :v

Tak lama setelahnya, ada seorang le petite  lady, seorang gadis yang mendekati kami berempat. Dia meminta untuk berkenalan.

Fani en de geng menyambut gadis itu dengan sesuatu yang... mengejutkan:

"Saya Jeniper lopes."

"Saya Milli Sirus."

Le me: *dalem ati* 'Dafuk temen ARKI saya narsis abis'

Merasa malu di tengah orang-orang narsis itu, saya melangkah melerai mereka. "Oke, serius. Saya Alia. Salam kenal, ya, cantik. Kamu siapa?"

Dia agak terbelalak. "Alia... Alia Salamah?"

Lalu dia menunjukkan nametag-nya. Mauren - Cerpen. Tenggorokan saya soak bacanya. Mau teriak tapi masa sih saya teriak? Ini di ballroom loh. Ini saya lagi di pojok ruangan tapi suara cempreng saya terlalu memikat, dan saya tau diri dan-- kalian ngerti lah.

Btw, ini yang terjadi antara aku dan Mauren sebelum hari pertama ARKI 2016:

MAUREN I'M SO SORRY ;-;

So yeah. Man, saya malah ketemu dia duluan gitu. Kan gak lucu. Tapi saya, dengan perasaan bersalah dan malu, langsung memeluk tubuh kecil itu sambil mikir dalam hati, 'Sialan, aku di dunia maya jahad banget ke orang'.

Yes, kalau kamu kenalan ke saya lewat medsos, saya cenderung tukang tabok. Di dunia maya saya mirip kucing, kok. Lembut tapi pingin nyakar mata kamu kalau lagi PMS.

____

Kita skip beberapa adegan sampai detik di mana saya kenalan sama banyak orang yang saya lupa namanya dan pergi ke acara 'pembagian kamar'. Saya... cepet lupa orangnya.

Kebetulan, Mauren udah punya temen jadi saya gak bisa ngajak dia. Alhasil, saya bertemu dengan Zahra. Kita sama-sama kelas 3 dan ini ARKI pertama dan terakhir kami.

Dia anak cerpen. Saya komik. Kita diskusi jadi enak, gak ada rahasia di antara kami berdua. Dia bahkan menunjukkan cerpen yang dia buat waktu penyisihan dan saya terkesan. Hastom harus belajar dari dia.

Setelah mereview cerpen dia... Saya yang sampai pada jam 11 siang menganggur sampai jam 5 sore. Kita gabut, kurja, dan merasakan apa yang namanya 'asa-gimana-gitu-didiemin-selama-enam-jam-nunggu-peserta-yang-belum-datang-kan-gak-enak'.

Saya sempet kontak Iruhan. Saya belum mau kontak Wheza saat itu, soalnya khusus buat temen saya yang satu ini... kalau mulai chat tentang nulis biasanya panjang (dan saya gak bisa keep up kalau udah gitu, maklum saya pakai HP). Hastom dan Andika Kaya ngerengek nanyain aku di mana (saya ada di kamar gak kemana-mana), dan saya haroream  menjawab pertanyaan itu.

Abaikan kejadian garing di atas

Well, skip to bagian dimana Saya dan Zahra terlambat datang karena gak tau jadwal, tau-tau pas kita datang ke Ballroom untuk vlogging orang-orang dah ngumpul. Lagi briefing. WTH, gak ada yang ngasih tau kita... ah, awkward. Dan hal ini disebabkan karena satu masalah kecil...

...aku dan dia tidak punya kontak pembina dan teman-teman lain.

Tips ARKI pertama: Pastikan kalian punya kontak pembina dan teman-teman.

Setelah briefing kami bersiap-siap untuk makan malam. Aku menghela napas pendek, capek pikiran dan malu karena datang terlambat. Tiba-tiba, aku mendengar sayup-sayup suara cowok memanggil namaku dari kejauhan.

'Alia.... Aliaaa!'

Owshiet, itu Andika Kaya.

Jadi aku datang menghampirinya. Dia gak tau wajah saya, jadi saya yang harus nyapa duluan. Hehe.

"Kamu... Rohaluss?"

Aku ngangguk sambil nyengir. Enggak enak dipanggil Rohaluss di dunia nyata meski saya ngumbar ke kalian PLIS PANGGIL AKU ROHIE ATAU ROHALUSS DI DUNIA MAYA. Beda rasanya. Beda banget. Dan itu lebih awkward daripada disuruh nyanyi goyang dumang di bis.

Dia enggak bilang apa-apa, langsung nyambar buku saya dan ia angkat tinggi-tinggi ke udara.

Detik itu, saya sadar dua hal paling bodoh yang pernah terlintas di kepalaku.

>Buset Andika Kaya tinggi banget.

>Buset gue pendek.

Saya perlu lompat untuk mendapatkan buku saya kembali, saudara, saking pendeknya tubuh saya. Untuk pembayangan, terakhir saya mengecek tinggi badan ukuran saya 155cm. Silahkan cari penggaris papan tulis satu biji ditambah setengah lagi. Nah, tinggi saya kurang lebih segitu.

Jadi kita ganti baju lagi. Satu hal yang membuat saya khawatir saat itu adalah saat Zahra jatuh sakit H-1 sebelum lomba. Enggak parah, sih. Dia cuma sakit kepala. Tapi saya harus mondar-mandir 4 kali naik 2 lantai cuma buat minta parasetamol ke kakak pembina. Kakak pembinanya gak peka sih.

Atau akunya aja yang kurang maksa biar diambilin parasetamol detik itu juga, soalnya skenarionya gini:


TES 1

Aku: Kak, minta parasetamol dong

Pembina: Kenapa, sakit kepala? Yaudah, nanti diambilin.


TES 2

Aku: Kak, saya minta parasetamol.

Pembina: Eh? Kamu sakit? Yaudah, nanti diambilin.


TES 3

Aku: Kak... em, temen saya sakit kepala.

Pembina: Perlu parasetamol? Yaudah, nanti diambilin.


TES 4

Aku: Kak, saya yang tadi minta parasetamol.

Pembina: Oh? Belum dapet? Yaudah tunggu disini.

*lima menit kemudian*

Pembina: Ini. Sekalian nih kayu putih. Bisa ikut pembukaan gak?

Aku: Bukan saya. Temen sekamar.

Pembina: OH. Tau gak siapa pembina dia?

Aku: *Koslet seketikah*



Oke, mungkin saya yang salah. Saya harusnya nunggu kakak-kakaknya dan tagih tiap detik gitu.

TIPS ARKI KEDUA: Bawa obat-obatan pribadi - dan yang ini jangan disepelekan. Lu bakal butuh.


Sampai mana saya? Oh ya.


Udah sih. Yang saya inget satu: Karena takut Zahra lupa shalat, saya melakukan hal bodoh seperti ini:

1. Tulis di sticky notes 'Jangan lupa shalat isya' di jam tangan Zahra

2. Tempel sticky notes dengan tulisan 'Ini air buat minum obat' di botol minumnya.

3. Menulis 'Ini obat' pakai tanda panah di meja sebelah tempat tidurnya.


Dan Zahra-nya tidur. Kan saya sinting.



BTW, ini video vlog hari pertama saya dengan Zahra (courtsey punya temen saya sendiri):

Sekalian yang penasaran gimana wajah saya hehe.


Sisa cerita ARKI 2016 dipost dua minggu lagi setelah UN SMA selesai
Hore, nunggu lama :v

#ARKI2016 || Pemberitahuan [1]

NAVIGATION
[PART 1]
[Next Chapter] [Previous] [First] [Last]

Gak ada angin, gak ada hujan, adanya twitter sialan yang kayaknya bakal PHP... disusul pemberitahuan ARKI 2016 yang mengatakan bahwa saya memenangkan lomba komik, masuk 15 besar, dan akan mengikuti pelatihan Akademi Remaja Kreatif Indonesia angkatan kedua.

Eh, serius. Twitter-nya seseorang *uhuk*yangbisakalianlihatdibawah*uhuk* itu agak nyebelin tau.

PUNYA KEMUNGKINAN NGE-PHP BANGET, KAN?!
APALAGI BUAT SAYA

Makanya, waktu lolos saya bingung, bahagia, dan kaget bukan main. Pas mau nge-share ke pembaca blog, saya langsung mikir dua kali.

'The hell, saya mau rahasiain nama saya gimana kalau saya mau nge-share acara ini?'

Nah.

Tapi tetep aja saya nulis ini, nanti kalau udah nerbitin buku saya post.

That being said...


Hai, nama asli saya Alia Salamah Nurfadillah.


Oke, kembali ke cerita.

Saya soak ngedenger berita itu. Banget. Dan lebih kaget lagi, tiga temen saya yang tahu nama asli saya di FB juga masuk ARKI 2016.

Ketiga orang ini adalah Andika, Hastomo, dan Mauren Okta.

Tapi saya cuma ngasih selamet ke Hastomo aja. Pertama, Andika terlalu mirip temen saya, jadi dia mungkin sadar sendiri.

Jadi yaudah. Saya ngasih kabar gembira ini ke sekolah. Guru saya, walikelas tercinta, Mrs. Aya, juga kaget. (sengaja bilangnya Mrs. Aya, soalnya kalau pakai Bu, nanti gak lucu) Soalnya ini ada stampel dari kemendikbud, yang artinya saya lomba lawan anak-anak satu Indonesia.

Daaaannnn.... entah kenapa, diumumin setelah apel pagi.

Um... pak?
Final belum jalan, pak, udah main umumin aja
Yang berteriak paling girang bukan saya, sih. Temen saya. Kurang lebih skemanya begini:


GURU: "Jadi, selama lima hari, Alia akan pergi ke Jakarta, mewakili EGS untuk berlomba di sana."

TEMEN: "BAGUS, PAK! BIARIN DIA GAK BELAJAR AJA! TERLALU PINTER DIA MAH."


*aku padahal remedial matematika dasar dan peminatan*

*tbh saya cuma pinter di kimia.*


Ya sudah. Dengan berat hati, berat jantung, berat kepala juga karena mikirin gimana nyusul pelajaran 4 hari karena sebentar lagi UN, saya mempersiapkan diri untuk berlomba melawan keempat belas peserta lain dari berbagai latar belakang dan berbagai kota yang tersebar di seluruh Indonesia.

But then, saya inget, ini mungkin lomba terakhir saya, ini mungkin kisah terakhir saya dalam usaha mengharumkan nama sekolah... jadi lebih baik bilang gak ah, sekolah mah urusan nanti dan nikmati saja. Buat apa sekolah namanya diharumkan. Kamu bentar lagi UN, dan ini terakhir kalinya kamu bisa menatap Creator Indonesia yang dikumpulkan di ajang ARKI ini.

Jadi emang saya gak niat menang-menang amat, kok.

Saya anaknya pesimis. Banget. Bakal dijelasin di kisah-kisah berikutnya, kok.

Mau tahu apa aja yang diobrolin satu sekolah ke saya?


'Al, kapan pergi?'

'Al, kalau menang traktir ya!'


Sementara saya, yang paling saya khawatirkan, adalah keadaan ikan cupang dan kura-kura yang setiap hari saya rawat, karena saya tahu teman-teman sekelas saya malas memelihara peliharaan kelas dan kura-kura sekolah cuma saya yang ngasih makan.

Rufi, si cupang merah-biru-item, dan sepasang kura-kura yang gak terlalu dirawat nasibnya gimana, ya?

***

Minggu, 03 Agustus 2014

Defrosted Chapter 3

Gila, file ilang, mudik 5 hari, argh, pokoknya susah, deh! Gak sempet bikin ilustrasinya (jadi menyusul) tapi silahkan enjoy chapter 3!


Defrosted Chapter 3 : Apa yang Terjadi pada Klan Musim Dingin?

Sennia berlari mengikuti aura aneh yang menariknya. Dia lupa membawa jubahnya, lupa menggunakan sepatu salju, dan dia juga lupa membawa lentera. Berkali-kali, ia terperosok salju, menjatuhkan benda bersinar dari sakunya tanpa sengaja.

Dia akhirnya menemukan Demor, berdiri di depan gadis es yang menangis keras. Dia bahkan tidak mau repot untuk sekedar menenangkan gadis itu. Hanya berdiri dengan wajahnya yang (menurut Sennia) dingin itu!

“Demoooor!! Kau bodoh atau apa?!!” teriak Sennia, mendorong keras punggung Demor. “Kamu apain dia?!”

Demor menarik nafas panjang, “Memberitahunya kenyataan. Dia dari klan musim dingin yang Ketua bicarakan beberapa musim lalu. Belasan elemental es yang diculik dari perkemahannya? Kau ingat?”

Sennia tentu saja mengingatnya. Beberapa musim lalu, tepatnya musim gugur tahun lalu dimana elemental es baru saja bersiap mendapatkan kekuatannya kembali, makhluk berderak yang memiliki mata merah menyala menangkap mereka hidup-hidup. Entah kemana. Puluhan klan elemental diculik dengan cara yang sama.

Hanya tersisa beberapa klan elemental, dan mereka berkumpul di tempat yang jauh untuk balas dendam. Gossip mengatakan balas dendam, namun sepertinya kata paling tepat adalah bersembunyi dan bertahan hidup. Mereka sudah seakan punah. Atau mereka sudah menyatu dengan kelompok pengelana dan klan lain?

Sennia tidak tahu. Sennia seharusnya tahu, tapi dia masih terlalu muda untuk terlibat urusan Elemental sungguhan. Ayahnya pergi dan menitipkannya pada klan pengelana musim semi. Lalu, menghilang dalam urusan Elemental.

Gadis ini mungkin memang elemental. Auranya yang terasa berbeda, suara tangisannya yang menggetarkan udara, dan rambutnya yang berwarna abnormal itu menunjukkan bahwa dia seorang elemental. Tapi klan itu? Klan itu tidak tersisa sama sekali! Jika gadis itu tahu, mungkin dia akan mengamuk...

Sennia berusaha menggilangkan bayangan kematian dari kepala gadis itu, “Mungkin enggak, kan?! Ada puluhan klan musim dingin di daerah pegunungan seperti ini!”

“Hanya satu klan elemental es yang ada di dunia,” nada Demor masih datar. “Kau pernah tahu kalau elemental membuat dirinya mati sementara dengan menyelubungi dirinya dengan element-nya.”

“Mati sementara?! Untuk apa, dia kan-?”

“Aku sudah pernah bilang,” Demor mendesis. “Untuk bersembunyi.”

Sennia langsung menutup mulutnya setelah kepintarannya kalah oleh Demor, “Kita tidak boleh meninggalkan dia di sini. Apalagi...”

“Aku tidak mau membawa seseorang yang cengeng ke kelompok kita, menghambat saja,” Demor lagi-lagi memotong tajam. “Aku duluan. Yang penting aku sudah mengatakannya bahwa klan es sudah mati.”

-Defrosted-

Butuh beberapa menit bagi Sennia untuk menenangkan gadis elemental itu sambil menahan dingin. Jubahnya, jaketnya, bahkan ia salah menggunakan sepatu. Sebagai tabib muda, dia sudah cukup kebal dingin, sehingga ia meminjamkan baju hangatnya pada anak-anak yang sakit. Tapi udara di sekitar turun drastis setelah Demor membuat seorang elemental menangis. Yah, di saat yang buruk seperti ini, pria bodoh macam apa yang membuat wanita menangis? Di tengah lautan es seperti ini pula!

“Jangan dengarkan Demor, dia itu sinting,” Sennia berkata dengan sedikit berbisik. “Dia selalu saja dingin pada semua orang!”

“Tapi seekor Demon memang selalu menyeret hati manusia pada kegelap... tadi kamu bilang apa?” tanya gadis itu, lirih. “Aku...”

Sennia menghela nafas, “Shock membuat kepalamu berpikir lamban, ya?”

Gadis itu hanya tersenyum paksa, “tidak apa-apa.”

Lalu, diam. Sennia memeluk kedua lututnya, menjaganya supaya tetap hangat walau... yah, hampir tidak membantu sama sekali. Matahari sudah hampir terbenam. Udara terasa menipis. Bahkan, asap dari perkemahan sudah mulai terlihat. Mereka sudah menyalakan api unggun. Demor pasti sedang memotong daging buruannya – tugas pria di kelompok – dan membakarnya di api.

Sennia lapar, namun ia tidak mau meninggalkan seorang elemental disini sendirian. Apalagi setelah pembantaian elemental yang terjadi akhir-akhir ini.

“Aku harus pulang,” gadis itu berdiri. “...sebelum gelap.”

Sennia mau menahannya, namun gadis itu melanjutkan, “Aku harus memastikannya. Harus.

“Kau mau pergi kemana?”

Sennia menoleh, diikuti gadis tersebut. Demor berjalan mendekat, melepaskan jubah berburunya dan memberikannya pada gadis itu. Demor tanpa sengaja melihat telinga gadis itu, lalu menarik nafas panjang.

Demor menggerakan tangannya dan memberi isyarat mulut dengan cepat, sampai-sampai Sennia tidak dapat membacanya.

“Ketuamu mengundangku makan malam?” Ulang gadis itu. “Apa akan merepotkan?”

Sennia menganga, tidak percaya bahwa gadis itu dapat mengerti.  Lalu, Demor mengangguk, dan memberikan kode melalui gerakan mulutnya lagi. Tenang, namun wajahnya masih sangat dingin.

“Kalau begitu, tidak apa-apa,” gadis itu mengangguk lemah. “Aku akan ikut.”

Lalu, gadis itu berjalan terlebih dahulu ke arah perkemahan. Demor menatap Sennia, lalu tersenyum sombong.

“Kau mau kedinginan di sana?”

Sennia menggerutu, “Dasar kau ini!!”

-Defrosted-

Sennia tidak begitu percaya hal ini. Demor bersikap aneh di depan gadis itu. Aneh, sangat aneh. Dia seakan tidak peduli namun... yah, entahlah. Demor tidak pernah bersikap sebodoh itu di depan siapapun. Apalagi wanita yang baru ditemuinya.

Tidak adil!

Lalu, Sennia memukul dirinya sendiri. Astaga! Kenapa aku berpikir hal itu tidak adil? Apa yang salah denganku?

“Sennia, kamu sudah ‘mengecek’ hal-hal itu?”

Sennia menoleh, lalu berdiri, “Ketua! Maaf, aku-”

“Demor mengatakan padaku bahwa telinga Crilys membeku, sehingga tidak dapat mendengar dengan baik,” Ketua kelompok lalu menepuk pundak Sennia. “Tabib, kuserahkan ini padamu nanti.”

“Nanti?” tanya Sennia. “Tunggu, Paman! Darimana paman tahu namanya?”

“Ah, Sennia, kamu bergabung baru setengah tahun,” Suara ketua sedikit melembut. “Kami bersahabat dengan klan es itu sudah cukup lama. Dia adalah Crilys Aerith Frosta. Aku mengenalnya, bahkan saat dia masih berupa bola cahaya yang lemah...”

“Jadi hanya aku yang tidak tahu dia?” tanya Sennia.

“Hanya kamu dan Demor,” ketua menegaskan. “Yah, dia sudah tumbuh sekarang. Beberapa bahkan tidak mengenalinya sampai Crilys berbicara. Nah, sebelum itu, ada yang mau kamu sampaikan padaku?”

Sennia mengatupkan mulutnya, lalu berbisik pelan, “Demor bersikap aneh padanya.”

“Ah, itu karena mereka sama.”

Sennia terkejut, “Sama?”

“Kami menemukan Demor tiga tahun yang lalu,” ketua melanjutkan. “Klan-nya dibantai habis oleh besi bermata merah yang bergerak dengan tenaga api. Kami menemukannya dalam keadaan babak belur.”

Sennia diam-diam melirik Demor, yang membuka kancing jaketnya di depan api, memasak daging buruan dan memanaskan air. Dia bahkan tidak meninggalkan pisaunya di tenda penyimpanan senjata. Alat-alat bertarung dan berburunya selalu ia bawa kemanapun. Dia menatap api seakan menatap musuh.

“Lalu, setelah bangun, ia berpikir kami adalah penjual budak, sehingga ia kabur ke kampung halamannya, mendapati segalanya sudah...”

“Aku mengerti,” Sennia memotong, membayangkannya saja sudah membuatnya merasa kasihan.

“Dia hanya tidak ingin gadis itu merasakan hal yang sama. Walaupun sikapnya seperti itu, dialah yang paling mengerti semua anggota kelompok,” Ketua ikut memandangi Demor yang berkerja di depan api.


“Aku tidak tahu...” bisik Sennia. “...Tapi setelah kulihat lagi, dia berusaha menutupi lukanya dengan wajah dan sikapnya itu...”

Rabu, 25 Juni 2014

Defrosted Chapter 2

Wow, telat banget, ya? Anyway, enjoy the Chapter 2 of Defrosted ~

And I said to myself : WUT?!
Harusnya itu nangis...
Defrosted Chapter 2

Gadis itu berlari mengikuti firasatnya dan sisa ingatannya. Jantungnya tidak dapat berhenti berdetak. ia ketakutan, namun ia tidak ingat kenapa. Air matanya tidak bisa berhenti. Alih-alih kedinginan, ia merasa badannya terbakar – seperti ditusuk besi membara dari belakang berulang kali.

Tiba-tiba, kakinya terperosok sesuatu yang tertimbun salju. Kepalanya membentur sesuatu yang keras di dalam salju, dan setelah itu, rasa sakit itu menghilang. Ia dapat berhenti menangis, tidak merasakan rasa sakit yang membuatnya berlari. Entah mengapa, ia merasa salju ini seakan-akan memeluknya, memberikannya kehangatan dan ketenangan...

Lalu, ia tertawa.


Demor merenyit saat melihat gadis bodoh itu membenamkan wajahnya di dalam salju dengan posisi seperti kue manusia jahe (hanya saja lebih idiot). Dia mendekati tubuh gadis itu, mencoba untuk tidak mengganggunya, apapun yang ia lakukan.

Tertawa setelah terjatuh. Akan masuk akal jika ia mentertawakan dirinya sendiri setelah melukai kepalanya.

“Hei, elemental,” Demor menepuk punggung gadis itu.

Gadis itu terlonjak kaget. Ia berguling menjauh seperti kayu dan tanpa sengaja menabrakan pungggungnya dengan pohon. Dia sempat mengaduh sebelum buru-buru berdiri kaku.

“Kau ini kenapa? Lari setelah melihatku, menangis setelah es-mu dipecahkan, dan sekarang kau menatapku seakan aku ini monster,” Demor menghela nafas. “Jangan bilang aku ini menyeramkan bagimu.”

“Tanganmu kasar...” gadis itu memainkan tangannya. “...kasar seperti kerikil...”

Itu kasar. Apa kau pernah belajar sopan santun?”

“Aku tahu tanganmu kasar,” gadis itu mengangguk. “Siapa kamu?”

Orang yang baru saja kau teriaki sebagai monster lima menit lalu dan hampir kau bunuh dengan sihir es-mu yang tidak normal. Juga orang yang sama dengan yang baru saja kau ejek. Apa itu cukup untuk memperkenalkan diri? Jika tidak, izinkan aku membekukanmu lagi dan mereka ulang adegan tadi.

“Namaku Demor dari Kelompok Pengelana Musim Semi.”

“Kelompok pengelana musim semi? Tapi ini musim dingin,” gadis itu kebingungan. “Ini... salju dimana-mana dan... kalian lupa cara pergi dari sini?”

Demor mengeraskan tangannya, “Itu hanya sekedar nama, dasar bodoh. Bukan berarti kami mengitari dunia untuk musim semi – kami lebih sering menetap dan pindah kalau cuaca buruk, musibah alam, dan buruan langka. Kami melakukan itu untuk bertahan hidup.”

“Tapi klan-ku adalah klan musim dingin. Kami mengelilingi dunia karena kami terbiasa dengan-”

“Kalau begitu, kita berbeda,” potong Demor sebelum ia harus mendengarkan orang lain. “Siapa namamu?”

“...um, Frosta... nama margaku Frosta,” lirih gadis itu, kurang yakin. “Frena? Um...”

Bodoh, Demor mengumpat dalam hati, lalu menyilangkan tangan.

“Kamu kedinginan?” tanya gadis itu.

“Tidak, aku menunggumu menjawab pertanyaanku. Tentu saja aku kedinginan. Aku bukan wanita musim dingin yang melompat kesana kemari  tanpa alas kaki dan baju tipis,”

“Um...” Gadis itu menatap kedua kakinya, malu. “Kamu bisa kembali ke klan milikmu sekarang. Aku akan pulang sendiri.”

“Jangan per-” lalu, Demor berhenti. Astaga. Aku hanya perlu untuk melarangnya kembali ke tempat itu, kenapa sulit sekali?!

“Aku... aku ingat pohon ini. Perkemahan klan-ku dekat,” gadis itu berbalik.

“Tidak ada asap api dari arah sana,” kata Demor.

Gadis itu hanya diam. Pundaknya menegang, dan secara tidak sadar ia memainkan jari-jarinya. Dia menatap Demor, lalu tersenyum dengan paksa. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.

“Klan-ku memang tidak menyalakan api unggun walaupun musim dingin,”

“Tapi kalian menggunakannya untuk memasak, bukan? Ayolah. Jangan pura-pura. Kamu sudah tahu semuanya sejak kau bangun dari es itu.”

Tetesan air mengalir di pipi gadis itu, “Tapi...”

“Ingatan keluarga elemental terhubung satu sama lain. Kau melihatnya. Mereka sudah-”

“Itu tidak mungkin!!!” teriak gadis itu. “Itu tidak mungkin terjadi, aku-”

“Aku bicara kenyataan,”  Demor mengulurkan tangannya. “Kami mendengar sekumpulan elemental es diburu beberapa tahun yang lalu. Kamu mungkin satu-satunya yang-”

Gadis itu terduduk, dengan wajah ketakutan.

Lalu, ia menangis.



“Sennia, kau berlebihan,” ucap ketua. “Demor takkan pergi terlalu jauh, kau tak perlu khawatir...”

“Ayolah, aku ini, kan, tabib utama kelompok ini,” Sennia mengambil tombaknya. “Demor pasti terluka di suatu tempat. Dia lamaaa sekali! Aku, kan, jadinya...”

khawatir?” sambung wanita di belakang. “Jadi selama ini...”

“Tidaaak!” Sennia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Dengan cowok hitam berambut cokelat itu?! Tidak – tidak akan pernaaaah!!”

Hening.

“Aku sungguh-sungguh! Aku lebih suka dia mati daripada hidup!!”

“Kalau begitu, kau tidak perlu keberatan untuk menunggu di sini,”

“Tapi-”

Suara Sennia terpotong karena aura aneh yang ia rasakan. Aura yang menahan nafas dan memaksa berhembus pada saat yang bersamaan. Rasa sakit di dada yang tak dapat dikisahkan. Suara tipis seperti angin namun menyiratkan kekhawatiran. Aura yang membuat Sennia menitikan air mata tanpa sebab...

Tangisan Elemental.

“Sennia?”

Sennia menghapus air matanya, “Aku harus mengecek sesuatu.

Rabu, 21 Mei 2014

Rohaluss Story : Defrosted Chapter 1 | Opening

Inspired from :
Fantasteen : Absolute Zero by Fauzi (Thank you!)
The Book of Black Spell by Monica (Hi, new author! Welcome to writing world, eh?)
Final Fantasy (Square Enix Game)
+ Those absurd games I have played lately

Story By : AliaRohaluss~
Genere : Hard Fantasy

Tabokan penulis sebelum mulai : Thanks to all my readers, I’ve finally finish my novel! XD Belum berani ngirim ke FantasTeen, sih. Aku masih mikir, resikonya terlalu besar untuk menulis novel dua buku... *sigh*

Sebagai perayaan, aku dengan bangga mempersembahkan : Defrosted Novel-Comic atau Light Novel, (terserah kalian mau nyebut cerita banyak ilustrasi dengan apa...) Kurang lebih 5 chapter. Ilustrasi di chapter berikutnya. Bakal rada ngawur gara-gara masih latihan menggunakan digital art tools.

Ahem. Semoga itu novel keterima, yah! (Amin...)



Defrosted Chapter 1

“Kamu menemukan gadis ini dalam kondisi seperti... em... ini?”

Lelaki berambut coklat itu mengangguk tegas. Dia tahu dia seharusnya tidak membawa bongkahan es berisi manusia itu pulang ke perkemahan, tapi sudah terlambat untuk menyadari kesalahannya sekarang. Mungkin para tertua klan akan bertanya lebih banyak, dan itu bisa memakan waktu lama.

Cerewet. Pikirnya. Lagipula dia sudah mati. Tidak ada waktu untuk mengurus mayat di musim dingin membekukan ini.

Tertua klan berjanggut putih itu menarik nafas panjang, “Kita harus mencairkannya, Demor. Roh manusia ini akan terus mengganggu tempat ini sampai tubuhnya diperlakukan dengan layak.”

“Dengan senang hati,” Demor, lelaki itu, berdiri dan beranjak pergi dari tempat itu. Aku tidak punya waktu untuk ini. Roh manusia apanya?


Banyak orang mengelilingi bongkahan es raksasa yang diletakan agak jauh dari perkemahan. Samar, memang, tapi di dalamnya benar-benar ada sebuah tubuh dengan baju pendek berwarna putih. Dari sisi manapun, baik gadis tersebut ataupun es yang membekukannya terlihat abnormal. Auranya seperti bukan es. Saat disentuh tidak dingin, melainkan seperti menyentuh batu licin.

“Ini bukan es,” kata salah satu wanita di sana.

“Jika ini bukan es, apa lagi?” timpal seorang pria. “Wajar saja kalau ada yang membeku di danau itu lagi. Ini sudah yang keempat kalinya dalam musim dingin panjang.”

“Minggir,” Demor mendorong pundak beberapa orang di depannya. “Es atau bukan, itu tidak penting.”

Demor mengeluarkan sebilah pisau pendek yang selalu ia gunakan saat berburu. Terbuat dari batu hitam yang mengilap, bentuknya sedikit terlihat kasar. Dia menaruh ujungnya di depan es tersebut, siap untuk menghancurkan benda apapun yang berani menyita waktunya.

Demor, jangan lakukan itu!!

Demor menoleh ke arah sumber suara. Seorang gadis berambut hitam dengan kalung besar menggantung di lehernya terengah setelah berlari cepat. Dia Sennia, tabib sekaligus peramal dalam perkemahan – atau orang-orang berkata begitu – yang masih belajar. Bahkan dalam musim dingin seganas ini, dia masih menggunakan baju musim gugur dengan banyak benda mistis menghiasi pakaiannya.

“Roh manusia bisa hancur jika kamu tidak hati-hati dalam mengurus tubuhnya! Seharusnya kamu-”

“Cerewet,” desis Demor. “Apa aku kelihatan peduli tentang roh manusia dan kehidupan setelah kematian?!”

Sennia menggumam, “Ya... kupikir kamu memang tidak peduli, sih. Tapi...”

Tanpa menghiraukan penjelasan Sennia, Demor langsung menusukan pisaunya pada es tersebut. Anehnya, pisau kokoh miliknya hanya berhasil membuat tusukan kecil, hampir tidak membuat sedikitpun retakan.

Seakan ada sesuatu yang melindungi es itu.

Demor merasakan hal ganjil yang membuatnya mundur. Sebuah perlindungan. Ya... aura tabir pelindung yang lemah. Sejenis... sihir. Mungkin bukan sihir. Tidak ada bekas penyihir yang melakukannya. Seperti sihir murni. Sihir yang tidak terjamah oleh kemampuan manusia, membekukan gadis itu.

Sennia menjitak kepala Demor, “Kau ini mau mengutuk kelompok pengelana ini, ya?!! Kubilang jangan, ya jangan!! Dasar cowok tak berperasaan!”

“Jaga ucapanmu, Sen-”

Klik.

...es itu retak.

“Astaga, Demooor!! Apa yang kau lakukan?!!” teriak Sennia. “Kau menghancurkan masa depan kita semua! Aaah!!!”

Tapi aku tidak melakukan apa-apa... Demor menutup telinganya, mencoba menjaga telinganya sebelum teriakan tak waras itu memenuhi otaknya. Matanya menatap gadis di dalam es. Sesuatu membuatnya merasa tidak enak... Terkurung di dalam es, tapi terasa hidup... apa hanya perasaannya saja, bahwa dia melihat gadis itu bergerak?

Itu tidak mungkin. Manusia macam apa yang masih hidup di dalam es? Secara logika, mereka takkan bisa bernafas tanpa udara. Dan dilihat dari pakaiannya, mungkin dia membeku saat musim panas...

Saat musim panas?

“Demor, kau harus bertanggung jawab!! Sekarang juga!!” Sennia mengguncang-guncangkan tubuh Demor. “Kau gila! Rohnya sedang marah! Kita akan mati dikutuk roh manusia yang menuntut balas dendam!! Aaaah!!!”

Matanya terbuka. Mata gadis itu terbuka, menatap Demor, lemah.

“Kau yang gila, Sennia! Orang itu masih hidup!” Demor mendorong tubuh Sennia menjauh. “Minggir!”

“Demo-”


-    Defrosted    -


Pisau itu belum menyentuh es. Sedikitpun tidak. Sennia melihat Demor baru saja memposisikan pisaunya di belakang kepalanya. Masih dalam posisi itu, tapi tiba-tiba saja, es itu hancur.

Pecahan es berserakan di mana-mana, memantulkan cahaya-cahaya terkecil dari lentera api dan sinar matahari yang menembus awan tebal. Demor membatu di tempat. Hampir saja beberapa dari pecahan es tajam mengenainya.

“Whoa, tadi itu berbahaya sekali,” sembur Sennia. “Tapi kamu benar, Demor. Gadis itu masih bernafas.”

“...Hei, apa kau baik-baik saja, Nona Es?” tanya Demor, dingin.

Tangan Sennia menimpuk kepala Demor, “Bisakah kau sedikit lebih sopan?!”

Gadis berambut biru itu menatap langit. Atau sesuatu yang lain. Tatapannya kosong. Nafasnya memburu.

Lari.

...kamu harus pergi-

Temukan element- .... –lainnya.

...menolongmu.

Gadis itu berteriak. Menangis. Dengan suara yang mampu menggetarkan badai salju dan menyayat hati...

Dia sendiri tidak tahu mengapa dadanya terasa berat.

Dia merasa hampa.

Sendirian.

Demor berlutut, berusaha menenangkannya, “Nona...”

Pecahan es melesat dan menggores pelipis Demor, “Pergi!!

Gadis itu berdiri, gemetar, melangkah mundur menjauhi Demor, “Demon!

Demon?”  Sennia merenyitkan dahi. “Demor, Itu nama aslimu?”

“Kau pikir aku ini apa?!” Demor berdiri, mencoba mendekat, “Dengar, Elemental, namaku bukan-”

Lagi-lagi, suara di kepala gadis itu terdengar lagi.

Lari.

Gadis itu membuat tembok es transparan yang membatasi dia dan kelompok pengelana tersebut, dan berlari sekuat-kuatnya. Demor hanya menatap punggung gadis itu yang berlari ke dalam hutan. Mengarah ke danau.

Sialan. Dia tidak boleh kembali ke tempatnya!” Demor mengambil lenteranya. Dengan cepat, dia memutari tembok itu dan berlari menyusul gadis itu.

Dia tidak boleh kembali...