Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Story. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Mei 2017

#ARKI2016 || (Negatif) Seratus Juta Untuk Anda (4)

NAVIGATION
[Next Chapter] [Previous] [First] [Last]

Setelah menuangkan banyak hal ke atas kertas - air mata, tinta, perasaan dan ilfeel karena belum sempet finishing pake grey marker yang sudah saya siapkan - saya kembali ke kamar dan menemukan teman sekamar saya sama betenya.

"Tau gak sih, temanya bukan yang ada di buku."

Lalu saya berkata sama; Kategori komik juga tidak sesuai temanya dengan apa yang ada di buku pedoman. Kasihan Mauren. Kasihan Diko. Kasihan Hastom. Apalagi Zahra yang saya bantuin nyari referensi dari shubuh...

Oh, well... saya berhasil improvisasi, jadi saya lumayan pede enggak akan malu-maluin diri sendiri. Enggak, saya tidak pernah berkata saya pe-de menang, karena tujuan saya di ARKI ini adalah nyari temen dan bikin kesan doang.

Detik ini saya belum ketemu Hastomo, dan saya bertanya-tanya;

'Kalau Diko setinggi itu, saya segimananya Hastomo ya...'

Karena, jujur, saya cebol. MAUREN OKTA AJA LEBIH TINGGI DARIPADA SAYA (nangis).

Dan tolong dicatat, ARKI 2016 ini bakal jadi ARKI terakhir saya karena saya sudah kelas 12... udah mah tua, saya cebol, dan enggak punya kepercayaan diri lagi (ceritanya panjang, ntar baca aja dulu deh).

Setelah lomba, kami harus mengisi form lain, dan sayangnya cuma saya yang bawa cepuk (karena saya lomba komik dan saya hobi gambar di tengah-tengah orang lagi pidato panjang), jadi pulpen saya dipinjam-pinjam.

Sambil mengoper-oper pulpen, tiba-tiba ada anak perempuan (yang lebih kecil daripada saya) yang nanya, "Ini pulpen siapa?"

"Oh, punya saya."

"Pinjem ya?"

Ya saya naro di sana emang buat dipinjem sih - tapi cara dia minta izin, astaga kawaii banget oemjeh.

"Siapa namanya?" tanyaku.

"Rubee."

"Rubi - kayak batu permata?"

Dan enggak, saya bukan memuji. Saya nanya ejaan namanya - tapi dia tersipu-sipu. Kan makin kawaii-desu... meski sebenernya gak enak sih dikenakan salah paham yang disertai salah tingkah.

Side note: Untung gue bukan cowok. BHAK.

"Bukan. R-U-B-E-E."

"Oh."

Udah, percakapan saya dan Rubee berhenti di sana - karena saya juga awkward mau nanya apa lagi dan saya sibuk bertanya-tanya sependek apa saya di mata Hastomo.

Saya tengok kanan-kiri, dan jujur saya masih... gak kenal banyak orang. Ditambah lagi, meski saya sudah tahu beberapa orang yang berisik, saya takut sama Muhammad de Putra, si pujangga cilik yang SANGAT tinggi dan SANGAT berisik. Kawan, saya introvert yang minder, dihadapkan dengan ekstrovert ribut yang pede bukan main saya malah merasa jadi sebutir debu di atas kapas. Kelihatan jelas dan enggak berguna.

Oke, itu agak lebay. Maaf ya Putra, kalau kamu baca ini. Tapi kesan pertama saya memang gitu ke kamu - takut setengah mati.

I'm so awkward with people QAQ

Anyway, sampai mana tadi?

Kita skip aja di bagian saya mau ngambek karena bapak-bapak yang saya lupa nama/ jabatannya itu gak dinotis karena anak-anak sibuk sendiri... (soalnya kurang menarik) dan kita bahas sesi paling abnormal;

Kokologi.

Damn, ada kokologi di tengah-tengah acara ginian... tapi yang bikin saya nangis (babak kedua) adalah pertanyaan ini;

Suatu hari ada seekor burung berwarna biru tiba-tiba masuk ke rumah anda dan terperangkap didalamnya. Anda pun berniat untuk memeliharanya. Namun, ada suatu keanehan yang terjadi pada burung tersebut.
Pada hari pertama warna burung tersebut berubah dari biru menjadi kuning.Pada hari kedua berubah lagi dari kuning menjadi merah terang.Hari ketiga berubah lagi menjadi hitam.


Akan berubah menjadi warna apakah burung tersebut di hari berikutnya?
Pilih salah satu :


a. tetap hitamb. kembali menjadi warna biruc. menjadi warna putihd. menjadi warna emas


Well, dan karena sebelumnya ada pertanyaan yang saya jawab dan bagus, saya pede aja. Tutup mata, membayangkan...

...hitam. Tetap hitam.

BTW saya udah sensor jawabannya biar kalian enggak intip-intip dulu. Nih, di bawah:

a. Burung tetap berwarna hitam
Menggambarkan bahwa diri anda adalah seorang yang memiliki pandangan yang PESIMIS.

b. Burung berubah kembali menjadi biru
Menggambarkan bahwa diri anda adalah seorang yang OPTIMIS.

c. Burung berubah menjadi putih
Menggambarkan bahwa anda adalah orang yang tenang dan tegas dibawah tekanan.

d. Burung berubah menjadi warna emas
menggambarkan bahwa anda adalah seseorang yang tidak memiliki rasa takut, anda tidak mengenal tekanan bagi anda. 


Yep.

Detik itulah baru aku berpikir tentang hidup saya.

Saya hiatus nyaris setaun karena ditolak penerbit - tiap ditolak, hiatus setahun untuk memperbaiki diri. Saya sering ngerasa gak berguna dan nangis diam-diam di kamar. Bahkan untuk ikut ARKI saja, saya ngerasa saya akan kalah, dan butuh dorongan konyol dari teman saya untuk mengirimkan naskah komik saya sendiri. Mungkin yang sering berkunjung ke blog ini ngecek update, tahu kalau saya pernah bilang saya depresi dan pingin bunuh diri (dihapus - karena ya, besoknya saya baik-baik aja).

Bahwa saya adalah orang bodoh.

Dan karena saya sadar sifat saya sesuai dengan jawaban itu, saya nangis.

Gak tau kenapa. Tapi untung saya gak punya teman (Zahra punya teman-teman lain dan Mauren sudah berkenalan dengan banyak orang - secara teknis saya gak punya geng ataupun grup yang bakal peduli sama saya) dan saya duduk paling depan, jadi enggak ada yang menangkap saya menangisi diri sendiri pas noleh ke belakang buat menyesuaikan jawaban dengan teman-temannya.

Yah.

Sampai jumpa di part 5

Jumat, 14 April 2017

#ARKI2016 || Lomba Dimulai, Mewek Bombai [3]

NAVIGATION
[Next Chapter] [Previous] [First] [Last]



Tahu gak, sebelum tidur saya nemu pernyataan TEMA FINAL di buku petunjuk ARKI 2016 setelah Zahra shalat isya. Serius. Temanya bocor(?) sebelum kita mulai lomba.... dan kalau kalian baca bahwa kita satu ARKI kerepotan setelahnya maka anda benar.

Tertulis di sana, bahwa tema komik ARKI 2016 Final adalah Tiba-Tiba Keluargaku Hilang dan tema cerpen ARKI 2016 final adalah Keluargaku Inspirasiku.

Terus karena kita nemu itu, kita diskusi sampai jam 11 malam, dan itu bodoh. Alasan utamanya ikuti cerita ini terus, tapi kalian mungkin bisa tahu kenapa itu ide buruk.

Pertama, kita jadi kurang tidur dan kebanyakan mikir sebelum lomba. Aku juga gampang tegang dan kalau udah gitu saya harus makan cokelat. Saya udah sikat gigi lagi huhuhu...

Kami berdiskusi. Rencana dia lumayan, sungguh. Seengaknya kalau saya pikirkan lagi, dia punya 1 kelebihan meski kemungkinan terburuk terjadi (yaitu tema diganti detik sebelum lomba). Dia udah punya karakter dengan latar dan karakteristik.

Saya juga udah nyiapin plot, agak ngahiwal, tapi sesuai dengan saya yang biasa nulis cerita miris dan tragis. Kisah saya tentang keluarga yang 'hilang' tidak secara fisik, namun secara 'perilaku dan kasih sayang'. Kakeknya saya buat meninggal, ibunya benci dia, ayahnya nikah lagi dan bawa istri barunya pergi, dan dia tinggal di rumah reyot yang ancur.

Rohie, kamu serius? ARKI gak nerima komik berunsur SARA, ide kamu agak menjurus ke family abuse!!

Ya.

Aku tau ini lebih parah daripada komik penyisihan saya yang berkisah tentang kakak yang berusaha bunuh diri karena broken home, dicap pengkhianat dan gak punya bakat dan kemampuan selain bermain game, tapi seandainya kau ingat...

...Ini mungkin lomba terakhir saya. Yang saya inginkan adalah nikmatin saat-saat berharga ini.

Satu hal lagi! Saya pikir, lomba selama 4 jam membuat komik 8 halaman berarti aku hanya bisa berkerja 30 menit per halaman. Saya memutuskan untuk membuat karakter yang bakal mirip meski saya menggambar dengan terburu-buru. Sejak malam hari saya memikirkan gadis ini: Rambut bob, mata bulat, dengan tinggi badan di atas rata-rata.


TIPS ARKI KOMIK 1: Bayangkan kemungkinan karakternya yang bisa kamu gambar dengan cepat tapi punya karakteristik.

TIPS ARKI CERPEN 1: Pikirin nama. Seengaknya kamu gak perlu ngahuleng 30 detik buat nyari nama yang cocok.


Jadi intinya... saya bodoh menyeret Zahra dalam diskusi malam, soalnya kami berdua tidur agak larut dan aku gak yakin saya bisa berlomba dengan tenang.

Sumpah, saya susah tidur. Kepala capek dan kurang sehat sebelum sempat berlomba. Lucu sekali.

Tapi kita bangun pagi dan shalat berjamaah. Kita memikirkan ide dan mematangkannya. Kami bergantian mandi; aku terlebih dahulu karena aku mau keluar dan me-chat Wheza, atau Iru, atau mungkin siapapun yang bisa bikin aku gak nerveous lagi. Aku... gak terlalu banyak bicara sama dia. Soalnya saya anak Introvert yang kurang suka bikin ribut.

"Eh, bisa gak kamu bantu aku cari referensi di internet?" tanya Zahra.

And so I did. Saya ke ballroom jam 5 pagi buat wi-fi dan diam-diam mencari apa yang Zahra butuhkan untuk ide ceritanya. Aku tidak menemukan segalanya yang dia butuh, tapi seengaknya saya berhasil menemukan salah satunya.

Teamwork!

Kita turun dan sarapan. Di sana sudah banyak orang yang berkumpul. Andika sudah berteman dengan orang luar pulau yang agak lebay dan bikin saya takut itu... de Putra, kalau tidak salah. (Maklum saya gak nyaman dengan orang-orang berisik) Fani and the gengz bikin roti bakar. Aku inget cewek-cewek kebanyakan berkerumun di depan meja bubur, roti dan sereal alih-alih nasi. Sementara, saya dan Zahra lebih memilih untuk makan biasa. Nasi adalah sesuatu yang membuat kepalaku berhenti meronta dan bilang, you'll fail eventually, ya dipsheet.

(Saya sudah bilang kan kalau otak saya pikirannya negatif banget?)

Saya pesimis lagi; gimana seandainya ada perubahan tema beberapa MENIT sebelum lomba dimulai? Aku mau nangis. Tapi aku pakai alasan standar untuk menenangkan diri.

Ini lomba terakhir kamu. Enjoy aja. Bikin yang aneh kalau bisa.

So yeah. Aku sarapan. Makan sedikit sambil menciptakan ruang kosong di perut, soalnya aku takut sakit perut waktu lomba. Aku juga menghindari susu, meski tiga per empat gelas teh dengan dua sendok susu cair membantuku menenangkan tangan. Setelah itu kami pergi ke ballroom lagi.

Ternyata kami para kru komikus berlomba di Ballroom, sementara Cipta Syair dan Cipta Cerpen pergi ke tempat lain. Jadi saya gak bisa ngintipin Mauren, Diko dan saya... belum ketemu Hastom. Kan sebel. Saya dikelilingi terlalu banyak orang baru, huu...

Detik dimana para pencipta kata itu pergi, saya melihat 13 wajah cewek saingan pencipta gambar dan 1 cowok penyendiri. Astaga. Dari 15 finalis cipta komik itu, hanya satu cowok yang berdiri di sana. Dan dia masih muda, malu-malu kucing di pojok ruangan! Sementara kami para cewek menunjukkan karya di tengah lorong, dia... dia menyendiri. Kasihan. Tapi imut //slap

Aku tahu cowok itu sejak hari pertama. Guru pembimbingnya menyapaku (bukan dia yang nyapa) dan saya mengobrol sebentar dengan beliau. Kupikir beliau juga mengajakku untuk berkenalan dengan anak itu karena lomba kami sama, tapi dia awkward banget.

Aku di sana agak gak enak gitu... soalnya Mereka saling pamer gambar. Saling menunjukkan skill, dan saya makin minder. Tapi tenang, kawan. Keminderan saya berdampak luar biasa. Saya makin optimis saya gak akan menang dan berpikir ENJOY AJA LOMBA TERAKHIR KAMU DI SMA~

Eh... Back to story.

Singkat cerita, hal terburuk terjadi. Tema diganti 5 menit sebelum lomba dimulai. Dari 'Tiba-tiba keluargaku hilang' menjadi 'Seandainya aku menjadi keluarga'

Aw, man. Berarti Challenger Cipta Cerpen dan Pujangga Populer Prestasian (CCC dan PPP) sumpah lu maksa banget Roh :v kemungkinan besar menghadapi masalah yang sama dengan kami. Otak saya langsung teriak: Kita dikasih tema gak bener di buku dan sekarang yang terlalu terpaku bakal gugur karena panik.

Kepala saya langsung mikir tema yang aku siapkan kemarin malam, dan gue emang rada kaget dan sejenak terpaku-- dan tanpa sengaja jadi impruvisasi.

Keluargaku 'hilang' tidak secara fisik, namun secara 'perilaku dan kasih sayang'. But well, kalau seandainya aku jadi keluarga, itu gak akan terjadi.

Bel ide di kepalaku mulai bunyi.

ding.

Ubah aja fokus plotnya jadi ending.

ding.

Dafuk. Kebetulan. Satu menit sebelum kertas dibagikan, saya punya plot dasar dan alur. Which means saya punya 4 jam full untuk eksekusi ide.

Aku merobek dua halaman dari buku sketsaku, satu berfungsi sebagai pengganti penggaris. (Tips ARKI Komik 2: Gak ada penggaris? Pakai kertas/ tisu/ cepuk.) Saya membuat storyboard - atau lebih tepatnya thumbnailing, soalnya storyboard buat film. Kurang lebih saya berhasil membaginya sebagai berikut:


Halaman pertama, prolog.

Halaman kedua, judul dan cover
(iya saya naro judul di halaman kedua. Kenapa enggak?)

Ketiga dan keempat, pengenalan konflik

Klimaks di halaman kelima dan enam

Tujuh dan delapan, resolusi dan penutup.


Btw teknik ini saya temukan saat saya menemukan 2 ide untuk penyisihan ARKI tahun itu. Setelah saya coba thumbnail, ternyata ide kedua bisa muat hanya dengan 7 halaman, sementara ide pertama butuh 9. Saya belajar untuk merencanakan karena saya pesimis bakal cukup halamannya gitu.

Kurang dari lima menit, saya udah selesai melakukan persiapan dan perencanaan jumlah halaman. Komik saya pas 8 halaman, dan saya gak mikir bahwa ini risiko tinggi. Saya bisa mengurangi resolusi dan penutup dalam satu halaman... gak usah lebay. Tapi detik itu pikiran saya cuma satu. Saya mau selesai.

Ide ini terlalu sayang kalau dijadiin novel.

Ide ini harus jadi komik.

Waktu saya mulai memindahkan thumbnail menjadi draft (cuma butuh 5 menit kurang), saya sadar kesalahan pertama saya.

Saya belum nyiapin nama.

Tapi saya gak mau buang waktu. Dengan berani bodoh saya mencolek teman yang mengerjakan komik di sebelah saya dan nanya, "Boleh saya pakai nama kamu buat karakter saya gak?"

Tips ARKI Cerpen dan Komik: Gak punya nama? Korbankan pinjam nama teman angkatan ARKI-mu

Thus...

...nama gadis yang 'kehilangan' keluarganya adalah Hafifah.

Semakin saya memikirkan tentang Hafifah, semakin saya teringat akan lagu Kokoronashi- nya GUMI. Semakin saya menyelam dalam kisah ini, saya bernyanyi. Ya. Saya menyanyikan versi bahasa inggrisnya dengan alternate lyrics-nya Jubyphonic, dan gak peduli orang lain denger atau enggak.

Sampai Hafifah sendiri protes pasca lomba:

"Iya nih, si Alia nyanyi terus pas lomba!"

Sori. Suara saya pasti jelek.

Saya gak inget detailnya, ya. Tapi ada yang saya paling inget. Satu hal yang bikin saya senyam-senyum sendiri pas ngebayangin itu lagi:

Saya baper. Saya baper terhadap karakter saya, dan tepat saat saya mengubah draft halaman ketujuh menjadi sketsa rapih, air mata saya jatuh di halaman tersebut dan membasahi gambar.

Aku menjerit. Oke, setengah menjerit - apa sih istilah bahasa Indo yang menyatakan 'teriak tapi mulut tertutup rapat'? Aku gak selebay itu, tapi aku langsung menghapusnya dengan sikut.

Sekali lagi.

Air mataku meluber di halaman ketujuh... paling memoriable pisan, bingits, sangat, kacida pokoknya!

Bayangin!

Saya berhasil mengalahkan tantangan tema yang diganti detik-detik sebelum lomba!

Saya berhasil memasukkan plot yang saya pikirkan dalam 8 halaman kertas!

Tapi saya gagal menahan air mata merusak kertasku karena aku baperan.


Btw itu gue yang pake kerudung
Tools yang bisa kelihatan di sana:
Cat akrilik hitam-putih (pengganti gouache), pensil 2B, Pulpen gambar, dan
white gel pen.

Selain itu, aku paling inget itu soalnya aku langsung minta tisu. Ini air mata gak mau stop, dan enggak berhenti sampai saya selesai inking. Kakak pembina yang baik hati ngasih aku tisu buat ngelap piring... yee, emangnya saya porselen mbak? (in case I forgot to tell: Lomba komik diadakan di ballroom hotel, tepat di meja yang kami pakai untuk makan siang/malam) Meski saya pikir... itu lebih baik daripada mengelap air mata dan ingus pakai kerudung berbahan crepe. Mending sekalian pakai amplas.

Ah, nostalgia.

Minggu, 02 April 2017

#ARKI2016 || Hari Pertama, Kesan Pertama, Parasetamol [2]

NAVIGATION
[Next Chapter] [Previous] [First] [Last]


Gua lupa bawa setengah dari hal-hal yang harusnya dibawa.

Waks.

Jadi pada awalnya, di ARKI 2016 ini saya kacau sangat, mungkin saya bisa list apa aja yang tertinggal saking banyaknya. Termasuk surat yang harusnya dibuat oleh kepsek. Tapi ya sudahlah.

Orang pertama yang menjabat tanganku di ARKI 2016 adalah Fani, (Vani? FINI? Sori, saya lupa cara ngetik namanya :v) Dia anak komik juga, saya senang sih. Tapi saya beneran gak bisa hafal nama teman dalam 6 bulan, left alone 5 hari.

Saya sumpah pelupa. Bukan artinya aku mau melupakan dia dan teman-temannya. Tapi saya beneran gak bisa hafal nama satupun teman sekelas saya dalam waktu 3 tahun waktu SD. Saya cuma hafal nama teman sekelas sepanjang SMP, dan selama SMA, saya hanya tahu sedikit dari anggota angkatan saya sendiri.

Jadi kalau orang-orang di ARKI kebanyakan saya adress dengan nama daerah atau nama lainnya, harap maklum. Saya gak hafal.

Okay, moving on.


Jadi karena saya salah satu orang yang diekorin sama guru sekolah (perwakilan yang mengantarkan saya adalah guru sejarah yang sangat lembut), saya agak awkward keliling-keliling. Barulah setelah beliau pergi, saya bisa berkelana dan berkenalan dengan orang lain.

Akan saya panggil mereka, Fani and the geng, karena saya kurang hafal nama mereka (dan kebetulan saya nulis ini dua minggu setelah ARKI tamat.).

Kamu bilang gak ke mereka nama pena kamu, Rohaluss?

Gak. Tapi saya gak mau nyimpen rahasia, jadi saya tunjukkin gambar saya yang pojok kanan bawahnya saya tandatangani dengan nama pena saya. Saya kaget mereka gak komentar soal nama tersebut... atau mungkin mereka gak sadar ada nama Rohaluss di sana :v

Tak lama setelahnya, ada seorang le petite  lady, seorang gadis yang mendekati kami berempat. Dia meminta untuk berkenalan.

Fani en de geng menyambut gadis itu dengan sesuatu yang... mengejutkan:

"Saya Jeniper lopes."

"Saya Milli Sirus."

Le me: *dalem ati* 'Dafuk temen ARKI saya narsis abis'

Merasa malu di tengah orang-orang narsis itu, saya melangkah melerai mereka. "Oke, serius. Saya Alia. Salam kenal, ya, cantik. Kamu siapa?"

Dia agak terbelalak. "Alia... Alia Salamah?"

Lalu dia menunjukkan nametag-nya. Mauren - Cerpen. Tenggorokan saya soak bacanya. Mau teriak tapi masa sih saya teriak? Ini di ballroom loh. Ini saya lagi di pojok ruangan tapi suara cempreng saya terlalu memikat, dan saya tau diri dan-- kalian ngerti lah.

Btw, ini yang terjadi antara aku dan Mauren sebelum hari pertama ARKI 2016:

MAUREN I'M SO SORRY ;-;

So yeah. Man, saya malah ketemu dia duluan gitu. Kan gak lucu. Tapi saya, dengan perasaan bersalah dan malu, langsung memeluk tubuh kecil itu sambil mikir dalam hati, 'Sialan, aku di dunia maya jahad banget ke orang'.

Yes, kalau kamu kenalan ke saya lewat medsos, saya cenderung tukang tabok. Di dunia maya saya mirip kucing, kok. Lembut tapi pingin nyakar mata kamu kalau lagi PMS.

____

Kita skip beberapa adegan sampai detik di mana saya kenalan sama banyak orang yang saya lupa namanya dan pergi ke acara 'pembagian kamar'. Saya... cepet lupa orangnya.

Kebetulan, Mauren udah punya temen jadi saya gak bisa ngajak dia. Alhasil, saya bertemu dengan Zahra. Kita sama-sama kelas 3 dan ini ARKI pertama dan terakhir kami.

Dia anak cerpen. Saya komik. Kita diskusi jadi enak, gak ada rahasia di antara kami berdua. Dia bahkan menunjukkan cerpen yang dia buat waktu penyisihan dan saya terkesan. Hastom harus belajar dari dia.

Setelah mereview cerpen dia... Saya yang sampai pada jam 11 siang menganggur sampai jam 5 sore. Kita gabut, kurja, dan merasakan apa yang namanya 'asa-gimana-gitu-didiemin-selama-enam-jam-nunggu-peserta-yang-belum-datang-kan-gak-enak'.

Saya sempet kontak Iruhan. Saya belum mau kontak Wheza saat itu, soalnya khusus buat temen saya yang satu ini... kalau mulai chat tentang nulis biasanya panjang (dan saya gak bisa keep up kalau udah gitu, maklum saya pakai HP). Hastom dan Andika Kaya ngerengek nanyain aku di mana (saya ada di kamar gak kemana-mana), dan saya haroream  menjawab pertanyaan itu.

Abaikan kejadian garing di atas

Well, skip to bagian dimana Saya dan Zahra terlambat datang karena gak tau jadwal, tau-tau pas kita datang ke Ballroom untuk vlogging orang-orang dah ngumpul. Lagi briefing. WTH, gak ada yang ngasih tau kita... ah, awkward. Dan hal ini disebabkan karena satu masalah kecil...

...aku dan dia tidak punya kontak pembina dan teman-teman lain.

Tips ARKI pertama: Pastikan kalian punya kontak pembina dan teman-teman.

Setelah briefing kami bersiap-siap untuk makan malam. Aku menghela napas pendek, capek pikiran dan malu karena datang terlambat. Tiba-tiba, aku mendengar sayup-sayup suara cowok memanggil namaku dari kejauhan.

'Alia.... Aliaaa!'

Owshiet, itu Andika Kaya.

Jadi aku datang menghampirinya. Dia gak tau wajah saya, jadi saya yang harus nyapa duluan. Hehe.

"Kamu... Rohaluss?"

Aku ngangguk sambil nyengir. Enggak enak dipanggil Rohaluss di dunia nyata meski saya ngumbar ke kalian PLIS PANGGIL AKU ROHIE ATAU ROHALUSS DI DUNIA MAYA. Beda rasanya. Beda banget. Dan itu lebih awkward daripada disuruh nyanyi goyang dumang di bis.

Dia enggak bilang apa-apa, langsung nyambar buku saya dan ia angkat tinggi-tinggi ke udara.

Detik itu, saya sadar dua hal paling bodoh yang pernah terlintas di kepalaku.

>Buset Andika Kaya tinggi banget.

>Buset gue pendek.

Saya perlu lompat untuk mendapatkan buku saya kembali, saudara, saking pendeknya tubuh saya. Untuk pembayangan, terakhir saya mengecek tinggi badan ukuran saya 155cm. Silahkan cari penggaris papan tulis satu biji ditambah setengah lagi. Nah, tinggi saya kurang lebih segitu.

Jadi kita ganti baju lagi. Satu hal yang membuat saya khawatir saat itu adalah saat Zahra jatuh sakit H-1 sebelum lomba. Enggak parah, sih. Dia cuma sakit kepala. Tapi saya harus mondar-mandir 4 kali naik 2 lantai cuma buat minta parasetamol ke kakak pembina. Kakak pembinanya gak peka sih.

Atau akunya aja yang kurang maksa biar diambilin parasetamol detik itu juga, soalnya skenarionya gini:


TES 1

Aku: Kak, minta parasetamol dong

Pembina: Kenapa, sakit kepala? Yaudah, nanti diambilin.


TES 2

Aku: Kak, saya minta parasetamol.

Pembina: Eh? Kamu sakit? Yaudah, nanti diambilin.


TES 3

Aku: Kak... em, temen saya sakit kepala.

Pembina: Perlu parasetamol? Yaudah, nanti diambilin.


TES 4

Aku: Kak, saya yang tadi minta parasetamol.

Pembina: Oh? Belum dapet? Yaudah tunggu disini.

*lima menit kemudian*

Pembina: Ini. Sekalian nih kayu putih. Bisa ikut pembukaan gak?

Aku: Bukan saya. Temen sekamar.

Pembina: OH. Tau gak siapa pembina dia?

Aku: *Koslet seketikah*



Oke, mungkin saya yang salah. Saya harusnya nunggu kakak-kakaknya dan tagih tiap detik gitu.

TIPS ARKI KEDUA: Bawa obat-obatan pribadi - dan yang ini jangan disepelekan. Lu bakal butuh.


Sampai mana saya? Oh ya.


Udah sih. Yang saya inget satu: Karena takut Zahra lupa shalat, saya melakukan hal bodoh seperti ini:

1. Tulis di sticky notes 'Jangan lupa shalat isya' di jam tangan Zahra

2. Tempel sticky notes dengan tulisan 'Ini air buat minum obat' di botol minumnya.

3. Menulis 'Ini obat' pakai tanda panah di meja sebelah tempat tidurnya.


Dan Zahra-nya tidur. Kan saya sinting.



BTW, ini video vlog hari pertama saya dengan Zahra (courtsey punya temen saya sendiri):

Sekalian yang penasaran gimana wajah saya hehe.


Sisa cerita ARKI 2016 dipost dua minggu lagi setelah UN SMA selesai
Hore, nunggu lama :v

#ARKI2016 || Pemberitahuan [1]

NAVIGATION
[PART 1]
[Next Chapter] [Previous] [First] [Last]

Gak ada angin, gak ada hujan, adanya twitter sialan yang kayaknya bakal PHP... disusul pemberitahuan ARKI 2016 yang mengatakan bahwa saya memenangkan lomba komik, masuk 15 besar, dan akan mengikuti pelatihan Akademi Remaja Kreatif Indonesia angkatan kedua.

Eh, serius. Twitter-nya seseorang *uhuk*yangbisakalianlihatdibawah*uhuk* itu agak nyebelin tau.

PUNYA KEMUNGKINAN NGE-PHP BANGET, KAN?!
APALAGI BUAT SAYA

Makanya, waktu lolos saya bingung, bahagia, dan kaget bukan main. Pas mau nge-share ke pembaca blog, saya langsung mikir dua kali.

'The hell, saya mau rahasiain nama saya gimana kalau saya mau nge-share acara ini?'

Nah.

Tapi tetep aja saya nulis ini, nanti kalau udah nerbitin buku saya post.

That being said...


Hai, nama asli saya Alia Salamah Nurfadillah.


Oke, kembali ke cerita.

Saya soak ngedenger berita itu. Banget. Dan lebih kaget lagi, tiga temen saya yang tahu nama asli saya di FB juga masuk ARKI 2016.

Ketiga orang ini adalah Andika, Hastomo, dan Mauren Okta.

Tapi saya cuma ngasih selamet ke Hastomo aja. Pertama, Andika terlalu mirip temen saya, jadi dia mungkin sadar sendiri.

Jadi yaudah. Saya ngasih kabar gembira ini ke sekolah. Guru saya, walikelas tercinta, Mrs. Aya, juga kaget. (sengaja bilangnya Mrs. Aya, soalnya kalau pakai Bu, nanti gak lucu) Soalnya ini ada stampel dari kemendikbud, yang artinya saya lomba lawan anak-anak satu Indonesia.

Daaaannnn.... entah kenapa, diumumin setelah apel pagi.

Um... pak?
Final belum jalan, pak, udah main umumin aja
Yang berteriak paling girang bukan saya, sih. Temen saya. Kurang lebih skemanya begini:


GURU: "Jadi, selama lima hari, Alia akan pergi ke Jakarta, mewakili EGS untuk berlomba di sana."

TEMEN: "BAGUS, PAK! BIARIN DIA GAK BELAJAR AJA! TERLALU PINTER DIA MAH."


*aku padahal remedial matematika dasar dan peminatan*

*tbh saya cuma pinter di kimia.*


Ya sudah. Dengan berat hati, berat jantung, berat kepala juga karena mikirin gimana nyusul pelajaran 4 hari karena sebentar lagi UN, saya mempersiapkan diri untuk berlomba melawan keempat belas peserta lain dari berbagai latar belakang dan berbagai kota yang tersebar di seluruh Indonesia.

But then, saya inget, ini mungkin lomba terakhir saya, ini mungkin kisah terakhir saya dalam usaha mengharumkan nama sekolah... jadi lebih baik bilang gak ah, sekolah mah urusan nanti dan nikmati saja. Buat apa sekolah namanya diharumkan. Kamu bentar lagi UN, dan ini terakhir kalinya kamu bisa menatap Creator Indonesia yang dikumpulkan di ajang ARKI ini.

Jadi emang saya gak niat menang-menang amat, kok.

Saya anaknya pesimis. Banget. Bakal dijelasin di kisah-kisah berikutnya, kok.

Mau tahu apa aja yang diobrolin satu sekolah ke saya?


'Al, kapan pergi?'

'Al, kalau menang traktir ya!'


Sementara saya, yang paling saya khawatirkan, adalah keadaan ikan cupang dan kura-kura yang setiap hari saya rawat, karena saya tahu teman-teman sekelas saya malas memelihara peliharaan kelas dan kura-kura sekolah cuma saya yang ngasih makan.

Rufi, si cupang merah-biru-item, dan sepasang kura-kura yang gak terlalu dirawat nasibnya gimana, ya?

***

Senin, 27 Juli 2015

Rohaluss Random Plot Generator ver.1.5

1. Ambil dadu, atau boleh dah, buka online dan tulis random dice generator. Link disini.

2. Kocok sebanyak 9 kali, tulis angka yang kalian dapatkan.

3. Idenya sangat samar, jadi tugas kalian setelah mendapatkan plot ini adalah menggali ide dan mencari detail, menciptakan ceritamu berdasarkan alur plot yang telah ditetapkan.

4. Tentu saja kalian bisa mengacuhkan angka-angka yang kalian tidak suka/ gak masuk ke dalam cerita.

5. No plot twist. Buat sendiri plot twist-nya kalau kalian menggunakan ini. Tandanya beberapa hal harus direnungkan ulang dan dihapus seluruhnya.

Okey, enjoy the story!


INTRO [Dadu pertama]
1. Karaktermu sedang berkeliling kota
2. Karaktermu bertemu orang-orang baik
3. karaktermu bertemu orang-orang jahat
4. Karaktermu sedang melakukan hobi-nya
5. Karaktermu menerima pesan/telepon/telegraf/apapun
6. Karaktermu sedang berkerja

INTRO 2 [Dadu kedua]
1. Dia lalu menemukan barang
2. Dia berpapasan dengan seseorang yang berharga baginya
3. Dia pulang ke rumah
4. Dia membaca
5. Dia membereskan barang
6. Dia berjalan-jalan

KONFLIK [Dadu ketiga]
1. Seseorang (atau banyak orang) sedang dalam bahaya
2. Sebuah (atau banyak) barang dicuri
3. Seseorang (Atau banyak orang) sedang dalam kondisi emosional yang buruk
4. Seseorang (atau banyak orang) sedang dalam kondisi mental yang buruk
5. Pertarungan/perang/duel/adu apalah sedang terjadi
6. Seseorang (atau banyak orang) teringat akan sesuatu yang buruk

BERIKUTNYA [Dadu Keempat]
1. Seseorang (atau banyak orang) mati
2. Terlibat dalam organisasi paling rahasia di muka bumi
3. Pengumuman besar-besaran terjadi
4. Seseorang (atau banyak orang) datang dan memperburuk keadaan
5. Sesuatu yang diluar akal manusia terjadi
6. Kejadian alam memperburuk keadan

LALU... [Dadu kelima]
1. "Sesuatu" dipertaruhkan
2. Sebuah (atau banyak) kemampuan khusus dibutuhkan
3. Makhluk astral terlibat
4. Ras manusia terancam punah
5. Karakter utama tidak peduli
6. Seseorang (atau banyak orang) menjadi histeris

TAPI KEMUDIAN...!!! [Dadu keenam]
1. Konflik memburuk karena kesalahan karakter utama
2. Konflik meledak tiba-tiba.
3. Seseorang (atau sesuatu) yang menjadi kunci penyelesaian konflik menghilang
4. Konfliknya malah nambah
5. Si karakter utama malah tidur di rumah tetangga jadi badass. And what I mean by badass... berkhianat.
6. Seseorang dari pihak teman berkhianat.

PENYELESAIAN [Dadu ketujuh]
1. Tokoh utamanya
2. Sebuah rencana bodoh yang licik
3. Diplomasi
4. Benda tertentu
5. Bertarung
6. Lari

NAMUN HAL YANG HARUS TERJADI...!! [Dadu kedelapan]
1. Pengorbanan nyawa
2. Ingatan seseorang harus hilang
3. Mengorbankan benda penting
4. Menghancurkan moral yang dipegang teguh
5. Melanggar hukum yang telah berlaku
6. Kejujuran pahit harus diutarakan

AKHIR [Dadu kesembilan]
1. Konflik selesai.
2. Konflik belum berakhir namun dunia mulai beraksi. Revolusi dunia.
3. Konflik selesai namun ada sedikit yang masih belum tuntas.
4. Konflik belum berakhir dan dunia belum melakukan apapun. Sequel needed.
5. Karakter utama mem-prolog-kan dunia. Eh... ya, dunia hancur, konflik selesai.
6. LOL. WUT.

Rabu, 17 Desember 2014

Writer Block'ed : Cerpen 001

Chalange : Pilih satu novel, buka halaman terakhir, dan jadikan kalimat terakhir sebagai awal dari ceritamu.

Chosen Book : Haunted School by Akbar

Last Sentence of the Novel : "Hari yang begitu indah dan damai"

Genre : Thriller


Before I start, don't forget to support author by buying their book. Let's start!


Hari yang begitu indah dan damai. Sunyi. Jauh dari kebisingan kota dan asap tebal yang menyesakan dada. Matahari terasa hangat. Tanganku hangat. Ini semua terasa sangat luar biasa. Angin sejuk, pepohonan yang menghalangi sinar matahari. Ini... ini luar biasa.

Kubasuh seluruh badanku di sungai, kurasakan airnya membasahi tanganku, menghapus rasa hangat dan digantikan dengan kesejukan. Sejuk. Airnya tidak deras, namun seperti ada yang mendorong kakiku. Arus air ini cukup deras untuk menghanyutkan benda yang cukup berat. Tapi tidak cukup untuk benda yang sangat berat, bukan?

Oh, payah. Otakku tidak bisa berkerja. Ayolah, pikirkan.

Aku harus lepas.

Tapi aku tidak mungkin lepas. Sudah terlambat. Penyesalan tak ada gunanya. Udara, tanah, air... semuanya melihat. Semuanya memberikan ketenangan, dan aku tidak mau meninggalkan mereka. Mereka tetap memberikan kenyamanan walau aku melakukan hal buruk. Mereka seperti teman lama. Mereka indah. Memberikan kedamaian...

...aku mendapat ide.

Mungkin berhasil.

Aku mengambil pisauku, lalu aku berjalan mendekati pohon tempat aku menaruh pria pengkhianat itu yang sudah tidak bernafas. Aku padahal baru membersihkan diri, kenapa ide ini baru muncul di kepalaku?

Aku memulai perkerjaanku. Setelah selesai, aku berbalik, meminta maaf pada sungai yang telah kunodai sebelum melempar kepala pria itu.

Sekarang, hari ini menjadi hari yang jauh lebih indah. Tanpa perasaan cemburu yang dia lakukan.

...dan hari ini jauh lebih damai karena aku tak perlu perang mulut dengannya lagi.


End note : Writer Block'ed adalah episode Journal of Rohaluss kalau aku kehabisan ide cerita. Dalam rangka melancarkan keinginanku untuk menulis, kutulis cerita baru atau cerpen, atau kalian akan mendapati chapter Defrosted baru.

Oke, Rohaluss out. Sekali lagi, Support the author. Buy their book. Got it?

Sabtu, 27 September 2014

Buat Inspirasi Random : Game of Lyrics

CARA BERMAIN :

THIS GAME IS UNDER CONSTRUCTION!! Kalian bisa test dan mencoba menginspirasi diri sendiri di sini dan membantuku melanjutkannya dengan cara komentar.


Cukup klik salah satu dari link dibawah.

Kalian harus meresapi lirik dan membuat cerpen/novel/artwork/lainnya dengan lirik tersebut.

Cara lainnya adalah men-download dan menulis apa yang kalian bayangkan.


Note for vote : Kalian boleh saran penyanyi dan lagu di komentar.



Note for the one who worried : Tenang. Gak ada lirik Anaconda atau yang berhubungan dengan itu. Kategori-nya sudah dikelompokkan. Dan ngomong-ngomong, mungkin bener-bener random. Edisi ini adalah salah satu yang akan di-update secara berkala setiap kali aku ingat.



Majority dari lirik di bawah dari penyanyi favoritku.



Kategori Lirik: Romance (Fall in love, broken heart, anything will do)

[LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK][LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK]

Kategori Lirik: Dark

[LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK]

Kategori Lirik: Fantasi / Banyak yang berhubungan dengan imajinasi

[LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK]

Kategori Lirik : Slice of Life, Society, and Character Psychology

[LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK][LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK] [LINK]

Kategori Instrumental : Galau



Kategori Instrumental : Beat


Kategori Tidak Disarankan (Sedikit menjurus 'kesana'... tapi masih dalam garis batas okey...)

[LINK]



END NOTE :

Sabar ya bro. Ada beberapa lirik isinya mengandung dua kategori (seperti Romance Dark, Romance Fantasy, Romance apapun) dan aku nulis dua kali di satu waktu.


Apalagi, Owl City liriknya penuh imajinasi, dan romance-nya manis. Seperti :

I'll meet you there : [LINK]

Fireflies (Favoritku! Penuh Fantasi!) : [LINK]

If My Heart was A House (Rada gombal, manis) : [LINK]

Deer In The Headlights (tentang Love at First Sight? Lucu, bukan?) : [LINK]

Take It All Away, lagu sedih : [LINK]

Dan yang menarik, lirik yang jatuh cinta pada... hantu? Owl City unik, ya? [LINK]



Yah... and again, this page is under construction. You can help me by commenting bellow.

Song just added : Owl City - Simple Plan - Maroon 5 - The Script - A7X - Vocaloid

Sisanya nunggu sebentar...


Minggu, 03 Agustus 2014

Defrosted Chapter 3

Gila, file ilang, mudik 5 hari, argh, pokoknya susah, deh! Gak sempet bikin ilustrasinya (jadi menyusul) tapi silahkan enjoy chapter 3!


Defrosted Chapter 3 : Apa yang Terjadi pada Klan Musim Dingin?

Sennia berlari mengikuti aura aneh yang menariknya. Dia lupa membawa jubahnya, lupa menggunakan sepatu salju, dan dia juga lupa membawa lentera. Berkali-kali, ia terperosok salju, menjatuhkan benda bersinar dari sakunya tanpa sengaja.

Dia akhirnya menemukan Demor, berdiri di depan gadis es yang menangis keras. Dia bahkan tidak mau repot untuk sekedar menenangkan gadis itu. Hanya berdiri dengan wajahnya yang (menurut Sennia) dingin itu!

“Demoooor!! Kau bodoh atau apa?!!” teriak Sennia, mendorong keras punggung Demor. “Kamu apain dia?!”

Demor menarik nafas panjang, “Memberitahunya kenyataan. Dia dari klan musim dingin yang Ketua bicarakan beberapa musim lalu. Belasan elemental es yang diculik dari perkemahannya? Kau ingat?”

Sennia tentu saja mengingatnya. Beberapa musim lalu, tepatnya musim gugur tahun lalu dimana elemental es baru saja bersiap mendapatkan kekuatannya kembali, makhluk berderak yang memiliki mata merah menyala menangkap mereka hidup-hidup. Entah kemana. Puluhan klan elemental diculik dengan cara yang sama.

Hanya tersisa beberapa klan elemental, dan mereka berkumpul di tempat yang jauh untuk balas dendam. Gossip mengatakan balas dendam, namun sepertinya kata paling tepat adalah bersembunyi dan bertahan hidup. Mereka sudah seakan punah. Atau mereka sudah menyatu dengan kelompok pengelana dan klan lain?

Sennia tidak tahu. Sennia seharusnya tahu, tapi dia masih terlalu muda untuk terlibat urusan Elemental sungguhan. Ayahnya pergi dan menitipkannya pada klan pengelana musim semi. Lalu, menghilang dalam urusan Elemental.

Gadis ini mungkin memang elemental. Auranya yang terasa berbeda, suara tangisannya yang menggetarkan udara, dan rambutnya yang berwarna abnormal itu menunjukkan bahwa dia seorang elemental. Tapi klan itu? Klan itu tidak tersisa sama sekali! Jika gadis itu tahu, mungkin dia akan mengamuk...

Sennia berusaha menggilangkan bayangan kematian dari kepala gadis itu, “Mungkin enggak, kan?! Ada puluhan klan musim dingin di daerah pegunungan seperti ini!”

“Hanya satu klan elemental es yang ada di dunia,” nada Demor masih datar. “Kau pernah tahu kalau elemental membuat dirinya mati sementara dengan menyelubungi dirinya dengan element-nya.”

“Mati sementara?! Untuk apa, dia kan-?”

“Aku sudah pernah bilang,” Demor mendesis. “Untuk bersembunyi.”

Sennia langsung menutup mulutnya setelah kepintarannya kalah oleh Demor, “Kita tidak boleh meninggalkan dia di sini. Apalagi...”

“Aku tidak mau membawa seseorang yang cengeng ke kelompok kita, menghambat saja,” Demor lagi-lagi memotong tajam. “Aku duluan. Yang penting aku sudah mengatakannya bahwa klan es sudah mati.”

-Defrosted-

Butuh beberapa menit bagi Sennia untuk menenangkan gadis elemental itu sambil menahan dingin. Jubahnya, jaketnya, bahkan ia salah menggunakan sepatu. Sebagai tabib muda, dia sudah cukup kebal dingin, sehingga ia meminjamkan baju hangatnya pada anak-anak yang sakit. Tapi udara di sekitar turun drastis setelah Demor membuat seorang elemental menangis. Yah, di saat yang buruk seperti ini, pria bodoh macam apa yang membuat wanita menangis? Di tengah lautan es seperti ini pula!

“Jangan dengarkan Demor, dia itu sinting,” Sennia berkata dengan sedikit berbisik. “Dia selalu saja dingin pada semua orang!”

“Tapi seekor Demon memang selalu menyeret hati manusia pada kegelap... tadi kamu bilang apa?” tanya gadis itu, lirih. “Aku...”

Sennia menghela nafas, “Shock membuat kepalamu berpikir lamban, ya?”

Gadis itu hanya tersenyum paksa, “tidak apa-apa.”

Lalu, diam. Sennia memeluk kedua lututnya, menjaganya supaya tetap hangat walau... yah, hampir tidak membantu sama sekali. Matahari sudah hampir terbenam. Udara terasa menipis. Bahkan, asap dari perkemahan sudah mulai terlihat. Mereka sudah menyalakan api unggun. Demor pasti sedang memotong daging buruannya – tugas pria di kelompok – dan membakarnya di api.

Sennia lapar, namun ia tidak mau meninggalkan seorang elemental disini sendirian. Apalagi setelah pembantaian elemental yang terjadi akhir-akhir ini.

“Aku harus pulang,” gadis itu berdiri. “...sebelum gelap.”

Sennia mau menahannya, namun gadis itu melanjutkan, “Aku harus memastikannya. Harus.

“Kau mau pergi kemana?”

Sennia menoleh, diikuti gadis tersebut. Demor berjalan mendekat, melepaskan jubah berburunya dan memberikannya pada gadis itu. Demor tanpa sengaja melihat telinga gadis itu, lalu menarik nafas panjang.

Demor menggerakan tangannya dan memberi isyarat mulut dengan cepat, sampai-sampai Sennia tidak dapat membacanya.

“Ketuamu mengundangku makan malam?” Ulang gadis itu. “Apa akan merepotkan?”

Sennia menganga, tidak percaya bahwa gadis itu dapat mengerti.  Lalu, Demor mengangguk, dan memberikan kode melalui gerakan mulutnya lagi. Tenang, namun wajahnya masih sangat dingin.

“Kalau begitu, tidak apa-apa,” gadis itu mengangguk lemah. “Aku akan ikut.”

Lalu, gadis itu berjalan terlebih dahulu ke arah perkemahan. Demor menatap Sennia, lalu tersenyum sombong.

“Kau mau kedinginan di sana?”

Sennia menggerutu, “Dasar kau ini!!”

-Defrosted-

Sennia tidak begitu percaya hal ini. Demor bersikap aneh di depan gadis itu. Aneh, sangat aneh. Dia seakan tidak peduli namun... yah, entahlah. Demor tidak pernah bersikap sebodoh itu di depan siapapun. Apalagi wanita yang baru ditemuinya.

Tidak adil!

Lalu, Sennia memukul dirinya sendiri. Astaga! Kenapa aku berpikir hal itu tidak adil? Apa yang salah denganku?

“Sennia, kamu sudah ‘mengecek’ hal-hal itu?”

Sennia menoleh, lalu berdiri, “Ketua! Maaf, aku-”

“Demor mengatakan padaku bahwa telinga Crilys membeku, sehingga tidak dapat mendengar dengan baik,” Ketua kelompok lalu menepuk pundak Sennia. “Tabib, kuserahkan ini padamu nanti.”

“Nanti?” tanya Sennia. “Tunggu, Paman! Darimana paman tahu namanya?”

“Ah, Sennia, kamu bergabung baru setengah tahun,” Suara ketua sedikit melembut. “Kami bersahabat dengan klan es itu sudah cukup lama. Dia adalah Crilys Aerith Frosta. Aku mengenalnya, bahkan saat dia masih berupa bola cahaya yang lemah...”

“Jadi hanya aku yang tidak tahu dia?” tanya Sennia.

“Hanya kamu dan Demor,” ketua menegaskan. “Yah, dia sudah tumbuh sekarang. Beberapa bahkan tidak mengenalinya sampai Crilys berbicara. Nah, sebelum itu, ada yang mau kamu sampaikan padaku?”

Sennia mengatupkan mulutnya, lalu berbisik pelan, “Demor bersikap aneh padanya.”

“Ah, itu karena mereka sama.”

Sennia terkejut, “Sama?”

“Kami menemukan Demor tiga tahun yang lalu,” ketua melanjutkan. “Klan-nya dibantai habis oleh besi bermata merah yang bergerak dengan tenaga api. Kami menemukannya dalam keadaan babak belur.”

Sennia diam-diam melirik Demor, yang membuka kancing jaketnya di depan api, memasak daging buruan dan memanaskan air. Dia bahkan tidak meninggalkan pisaunya di tenda penyimpanan senjata. Alat-alat bertarung dan berburunya selalu ia bawa kemanapun. Dia menatap api seakan menatap musuh.

“Lalu, setelah bangun, ia berpikir kami adalah penjual budak, sehingga ia kabur ke kampung halamannya, mendapati segalanya sudah...”

“Aku mengerti,” Sennia memotong, membayangkannya saja sudah membuatnya merasa kasihan.

“Dia hanya tidak ingin gadis itu merasakan hal yang sama. Walaupun sikapnya seperti itu, dialah yang paling mengerti semua anggota kelompok,” Ketua ikut memandangi Demor yang berkerja di depan api.


“Aku tidak tahu...” bisik Sennia. “...Tapi setelah kulihat lagi, dia berusaha menutupi lukanya dengan wajah dan sikapnya itu...”

Rabu, 25 Juni 2014

Defrosted Chapter 2

Wow, telat banget, ya? Anyway, enjoy the Chapter 2 of Defrosted ~

And I said to myself : WUT?!
Harusnya itu nangis...
Defrosted Chapter 2

Gadis itu berlari mengikuti firasatnya dan sisa ingatannya. Jantungnya tidak dapat berhenti berdetak. ia ketakutan, namun ia tidak ingat kenapa. Air matanya tidak bisa berhenti. Alih-alih kedinginan, ia merasa badannya terbakar – seperti ditusuk besi membara dari belakang berulang kali.

Tiba-tiba, kakinya terperosok sesuatu yang tertimbun salju. Kepalanya membentur sesuatu yang keras di dalam salju, dan setelah itu, rasa sakit itu menghilang. Ia dapat berhenti menangis, tidak merasakan rasa sakit yang membuatnya berlari. Entah mengapa, ia merasa salju ini seakan-akan memeluknya, memberikannya kehangatan dan ketenangan...

Lalu, ia tertawa.


Demor merenyit saat melihat gadis bodoh itu membenamkan wajahnya di dalam salju dengan posisi seperti kue manusia jahe (hanya saja lebih idiot). Dia mendekati tubuh gadis itu, mencoba untuk tidak mengganggunya, apapun yang ia lakukan.

Tertawa setelah terjatuh. Akan masuk akal jika ia mentertawakan dirinya sendiri setelah melukai kepalanya.

“Hei, elemental,” Demor menepuk punggung gadis itu.

Gadis itu terlonjak kaget. Ia berguling menjauh seperti kayu dan tanpa sengaja menabrakan pungggungnya dengan pohon. Dia sempat mengaduh sebelum buru-buru berdiri kaku.

“Kau ini kenapa? Lari setelah melihatku, menangis setelah es-mu dipecahkan, dan sekarang kau menatapku seakan aku ini monster,” Demor menghela nafas. “Jangan bilang aku ini menyeramkan bagimu.”

“Tanganmu kasar...” gadis itu memainkan tangannya. “...kasar seperti kerikil...”

Itu kasar. Apa kau pernah belajar sopan santun?”

“Aku tahu tanganmu kasar,” gadis itu mengangguk. “Siapa kamu?”

Orang yang baru saja kau teriaki sebagai monster lima menit lalu dan hampir kau bunuh dengan sihir es-mu yang tidak normal. Juga orang yang sama dengan yang baru saja kau ejek. Apa itu cukup untuk memperkenalkan diri? Jika tidak, izinkan aku membekukanmu lagi dan mereka ulang adegan tadi.

“Namaku Demor dari Kelompok Pengelana Musim Semi.”

“Kelompok pengelana musim semi? Tapi ini musim dingin,” gadis itu kebingungan. “Ini... salju dimana-mana dan... kalian lupa cara pergi dari sini?”

Demor mengeraskan tangannya, “Itu hanya sekedar nama, dasar bodoh. Bukan berarti kami mengitari dunia untuk musim semi – kami lebih sering menetap dan pindah kalau cuaca buruk, musibah alam, dan buruan langka. Kami melakukan itu untuk bertahan hidup.”

“Tapi klan-ku adalah klan musim dingin. Kami mengelilingi dunia karena kami terbiasa dengan-”

“Kalau begitu, kita berbeda,” potong Demor sebelum ia harus mendengarkan orang lain. “Siapa namamu?”

“...um, Frosta... nama margaku Frosta,” lirih gadis itu, kurang yakin. “Frena? Um...”

Bodoh, Demor mengumpat dalam hati, lalu menyilangkan tangan.

“Kamu kedinginan?” tanya gadis itu.

“Tidak, aku menunggumu menjawab pertanyaanku. Tentu saja aku kedinginan. Aku bukan wanita musim dingin yang melompat kesana kemari  tanpa alas kaki dan baju tipis,”

“Um...” Gadis itu menatap kedua kakinya, malu. “Kamu bisa kembali ke klan milikmu sekarang. Aku akan pulang sendiri.”

“Jangan per-” lalu, Demor berhenti. Astaga. Aku hanya perlu untuk melarangnya kembali ke tempat itu, kenapa sulit sekali?!

“Aku... aku ingat pohon ini. Perkemahan klan-ku dekat,” gadis itu berbalik.

“Tidak ada asap api dari arah sana,” kata Demor.

Gadis itu hanya diam. Pundaknya menegang, dan secara tidak sadar ia memainkan jari-jarinya. Dia menatap Demor, lalu tersenyum dengan paksa. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.

“Klan-ku memang tidak menyalakan api unggun walaupun musim dingin,”

“Tapi kalian menggunakannya untuk memasak, bukan? Ayolah. Jangan pura-pura. Kamu sudah tahu semuanya sejak kau bangun dari es itu.”

Tetesan air mengalir di pipi gadis itu, “Tapi...”

“Ingatan keluarga elemental terhubung satu sama lain. Kau melihatnya. Mereka sudah-”

“Itu tidak mungkin!!!” teriak gadis itu. “Itu tidak mungkin terjadi, aku-”

“Aku bicara kenyataan,”  Demor mengulurkan tangannya. “Kami mendengar sekumpulan elemental es diburu beberapa tahun yang lalu. Kamu mungkin satu-satunya yang-”

Gadis itu terduduk, dengan wajah ketakutan.

Lalu, ia menangis.



“Sennia, kau berlebihan,” ucap ketua. “Demor takkan pergi terlalu jauh, kau tak perlu khawatir...”

“Ayolah, aku ini, kan, tabib utama kelompok ini,” Sennia mengambil tombaknya. “Demor pasti terluka di suatu tempat. Dia lamaaa sekali! Aku, kan, jadinya...”

khawatir?” sambung wanita di belakang. “Jadi selama ini...”

“Tidaaak!” Sennia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Dengan cowok hitam berambut cokelat itu?! Tidak – tidak akan pernaaaah!!”

Hening.

“Aku sungguh-sungguh! Aku lebih suka dia mati daripada hidup!!”

“Kalau begitu, kau tidak perlu keberatan untuk menunggu di sini,”

“Tapi-”

Suara Sennia terpotong karena aura aneh yang ia rasakan. Aura yang menahan nafas dan memaksa berhembus pada saat yang bersamaan. Rasa sakit di dada yang tak dapat dikisahkan. Suara tipis seperti angin namun menyiratkan kekhawatiran. Aura yang membuat Sennia menitikan air mata tanpa sebab...

Tangisan Elemental.

“Sennia?”

Sennia menghapus air matanya, “Aku harus mengecek sesuatu.

Rabu, 21 Mei 2014

Rohaluss Story : Defrosted Chapter 1 | Opening

Inspired from :
Fantasteen : Absolute Zero by Fauzi (Thank you!)
The Book of Black Spell by Monica (Hi, new author! Welcome to writing world, eh?)
Final Fantasy (Square Enix Game)
+ Those absurd games I have played lately

Story By : AliaRohaluss~
Genere : Hard Fantasy

Tabokan penulis sebelum mulai : Thanks to all my readers, I’ve finally finish my novel! XD Belum berani ngirim ke FantasTeen, sih. Aku masih mikir, resikonya terlalu besar untuk menulis novel dua buku... *sigh*

Sebagai perayaan, aku dengan bangga mempersembahkan : Defrosted Novel-Comic atau Light Novel, (terserah kalian mau nyebut cerita banyak ilustrasi dengan apa...) Kurang lebih 5 chapter. Ilustrasi di chapter berikutnya. Bakal rada ngawur gara-gara masih latihan menggunakan digital art tools.

Ahem. Semoga itu novel keterima, yah! (Amin...)



Defrosted Chapter 1

“Kamu menemukan gadis ini dalam kondisi seperti... em... ini?”

Lelaki berambut coklat itu mengangguk tegas. Dia tahu dia seharusnya tidak membawa bongkahan es berisi manusia itu pulang ke perkemahan, tapi sudah terlambat untuk menyadari kesalahannya sekarang. Mungkin para tertua klan akan bertanya lebih banyak, dan itu bisa memakan waktu lama.

Cerewet. Pikirnya. Lagipula dia sudah mati. Tidak ada waktu untuk mengurus mayat di musim dingin membekukan ini.

Tertua klan berjanggut putih itu menarik nafas panjang, “Kita harus mencairkannya, Demor. Roh manusia ini akan terus mengganggu tempat ini sampai tubuhnya diperlakukan dengan layak.”

“Dengan senang hati,” Demor, lelaki itu, berdiri dan beranjak pergi dari tempat itu. Aku tidak punya waktu untuk ini. Roh manusia apanya?


Banyak orang mengelilingi bongkahan es raksasa yang diletakan agak jauh dari perkemahan. Samar, memang, tapi di dalamnya benar-benar ada sebuah tubuh dengan baju pendek berwarna putih. Dari sisi manapun, baik gadis tersebut ataupun es yang membekukannya terlihat abnormal. Auranya seperti bukan es. Saat disentuh tidak dingin, melainkan seperti menyentuh batu licin.

“Ini bukan es,” kata salah satu wanita di sana.

“Jika ini bukan es, apa lagi?” timpal seorang pria. “Wajar saja kalau ada yang membeku di danau itu lagi. Ini sudah yang keempat kalinya dalam musim dingin panjang.”

“Minggir,” Demor mendorong pundak beberapa orang di depannya. “Es atau bukan, itu tidak penting.”

Demor mengeluarkan sebilah pisau pendek yang selalu ia gunakan saat berburu. Terbuat dari batu hitam yang mengilap, bentuknya sedikit terlihat kasar. Dia menaruh ujungnya di depan es tersebut, siap untuk menghancurkan benda apapun yang berani menyita waktunya.

Demor, jangan lakukan itu!!

Demor menoleh ke arah sumber suara. Seorang gadis berambut hitam dengan kalung besar menggantung di lehernya terengah setelah berlari cepat. Dia Sennia, tabib sekaligus peramal dalam perkemahan – atau orang-orang berkata begitu – yang masih belajar. Bahkan dalam musim dingin seganas ini, dia masih menggunakan baju musim gugur dengan banyak benda mistis menghiasi pakaiannya.

“Roh manusia bisa hancur jika kamu tidak hati-hati dalam mengurus tubuhnya! Seharusnya kamu-”

“Cerewet,” desis Demor. “Apa aku kelihatan peduli tentang roh manusia dan kehidupan setelah kematian?!”

Sennia menggumam, “Ya... kupikir kamu memang tidak peduli, sih. Tapi...”

Tanpa menghiraukan penjelasan Sennia, Demor langsung menusukan pisaunya pada es tersebut. Anehnya, pisau kokoh miliknya hanya berhasil membuat tusukan kecil, hampir tidak membuat sedikitpun retakan.

Seakan ada sesuatu yang melindungi es itu.

Demor merasakan hal ganjil yang membuatnya mundur. Sebuah perlindungan. Ya... aura tabir pelindung yang lemah. Sejenis... sihir. Mungkin bukan sihir. Tidak ada bekas penyihir yang melakukannya. Seperti sihir murni. Sihir yang tidak terjamah oleh kemampuan manusia, membekukan gadis itu.

Sennia menjitak kepala Demor, “Kau ini mau mengutuk kelompok pengelana ini, ya?!! Kubilang jangan, ya jangan!! Dasar cowok tak berperasaan!”

“Jaga ucapanmu, Sen-”

Klik.

...es itu retak.

“Astaga, Demooor!! Apa yang kau lakukan?!!” teriak Sennia. “Kau menghancurkan masa depan kita semua! Aaah!!!”

Tapi aku tidak melakukan apa-apa... Demor menutup telinganya, mencoba menjaga telinganya sebelum teriakan tak waras itu memenuhi otaknya. Matanya menatap gadis di dalam es. Sesuatu membuatnya merasa tidak enak... Terkurung di dalam es, tapi terasa hidup... apa hanya perasaannya saja, bahwa dia melihat gadis itu bergerak?

Itu tidak mungkin. Manusia macam apa yang masih hidup di dalam es? Secara logika, mereka takkan bisa bernafas tanpa udara. Dan dilihat dari pakaiannya, mungkin dia membeku saat musim panas...

Saat musim panas?

“Demor, kau harus bertanggung jawab!! Sekarang juga!!” Sennia mengguncang-guncangkan tubuh Demor. “Kau gila! Rohnya sedang marah! Kita akan mati dikutuk roh manusia yang menuntut balas dendam!! Aaaah!!!”

Matanya terbuka. Mata gadis itu terbuka, menatap Demor, lemah.

“Kau yang gila, Sennia! Orang itu masih hidup!” Demor mendorong tubuh Sennia menjauh. “Minggir!”

“Demo-”


-    Defrosted    -


Pisau itu belum menyentuh es. Sedikitpun tidak. Sennia melihat Demor baru saja memposisikan pisaunya di belakang kepalanya. Masih dalam posisi itu, tapi tiba-tiba saja, es itu hancur.

Pecahan es berserakan di mana-mana, memantulkan cahaya-cahaya terkecil dari lentera api dan sinar matahari yang menembus awan tebal. Demor membatu di tempat. Hampir saja beberapa dari pecahan es tajam mengenainya.

“Whoa, tadi itu berbahaya sekali,” sembur Sennia. “Tapi kamu benar, Demor. Gadis itu masih bernafas.”

“...Hei, apa kau baik-baik saja, Nona Es?” tanya Demor, dingin.

Tangan Sennia menimpuk kepala Demor, “Bisakah kau sedikit lebih sopan?!”

Gadis berambut biru itu menatap langit. Atau sesuatu yang lain. Tatapannya kosong. Nafasnya memburu.

Lari.

...kamu harus pergi-

Temukan element- .... –lainnya.

...menolongmu.

Gadis itu berteriak. Menangis. Dengan suara yang mampu menggetarkan badai salju dan menyayat hati...

Dia sendiri tidak tahu mengapa dadanya terasa berat.

Dia merasa hampa.

Sendirian.

Demor berlutut, berusaha menenangkannya, “Nona...”

Pecahan es melesat dan menggores pelipis Demor, “Pergi!!

Gadis itu berdiri, gemetar, melangkah mundur menjauhi Demor, “Demon!

Demon?”  Sennia merenyitkan dahi. “Demor, Itu nama aslimu?”

“Kau pikir aku ini apa?!” Demor berdiri, mencoba mendekat, “Dengar, Elemental, namaku bukan-”

Lagi-lagi, suara di kepala gadis itu terdengar lagi.

Lari.

Gadis itu membuat tembok es transparan yang membatasi dia dan kelompok pengelana tersebut, dan berlari sekuat-kuatnya. Demor hanya menatap punggung gadis itu yang berlari ke dalam hutan. Mengarah ke danau.

Sialan. Dia tidak boleh kembali ke tempatnya!” Demor mengambil lenteranya. Dengan cepat, dia memutari tembok itu dan berlari menyusul gadis itu.

Dia tidak boleh kembali...