Sabtu, 26 Juli 2014

FantasTeen Quiz Part 1 : Genderbention!

Suatu hari, penyihir Rohaluss berencana membuat sihir baru dengan ramuannya. Namun, karena kekurangan ide, ia mencoba mengeluarkan beberapa karakter dalam buku fiksi untuk diwawancarai.

Namun, itu menjadi kesalahan fatal bagi penyihir tersebut.

Akibat berusaha mengeluarka tiga karakter sekaligus, ketiga karakter yang menjadi nyata itu tanpa sengaja menabrak lemari! Botol ramuan terlarang yang diciptakan penyihir itu pecah! Satu-satunya obat penawar adalah dengan cara mengembalikannya ke dunianya... tapi kalau gagal, mereka akan menjadi seperti itu selamanya!

Bisakah kalian membantu penyihir Rohaluss mengembalikan mereka?

Quiz level : * (Max lv *****)

Jawaban dikirim ke : rohaluss_writing@yahoo.com dalam subject JawabanFTQ#01

10 orang pertama yang betul gak akan dapet apa-apa :v tapi namanya bakal ditulis dibawah

Selamat menjawab, semuanya!

Ralat : DON'T COMMENT BELLOW!!
Ngasih clue masih boleh ^^

PETUNJUK!! Dari tiga karakter di atas :

1. Hanya satu yang berasal dari genere horror

2. Hanya satu yang bukan merupakan karakter utama

3. Ketiganya terkena ramuan (Efek sampingnya... keliatan, kan?)

4. Hanya dua orang yang muncul di cover-nya sendiri

5. Satu orang berkerja pada media pers, sisanya murid

6. Salah satu dari mereka, akibat ramuan tersebut, kehilangan tato yang seharusnya ada di tangannya

7. Salah satu dari mereka juga seharusnya memiliki luka bakar di pelipisnya.

Ramuan itu selain mengubah mereka, apa ramuan itu juga mengobati luka?

Hint-nya sudah banyak, tuh. Ada yang mau jawab?

Orang-orang yang berhasil menjawab ketiga orang itu... (oh,  ya. Sertakan nama di e-mail, boleh samaran) :

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

Kamis, 24 Juli 2014

Animation test part 2 : Dammit... Flash...

Masih ingat aku mencoba membuat Animasi dari Fanfiction The Legend of Hell's Sword?

Bad news : Flash aku gak jalan...

NOOOOO!!!

Kenapa aplikasi di komputerku gak jalan pas aku mau pakai?!!

Urghh...

Sumpah, nyebelin banget...

By the way, versi beta sudah jadi. Tapi kusarankan kalian baca ceritanya dulu atau... tunggu Fanfiction versi good-nya dulu.

Selasa, 22 Juli 2014

Fanfict Animation Test! The Legend Of Hell's Sword by Wheza

Animation Fanfiction Test (?)

Story, Screenwriting, Animation (?), and (almost) everything by : Rohaluss

Character, real storyline, and everything else belongs to Wheza

Featuring : The Legend of Hell's Sword

(Yup. Karena aku lupa dimana aku naro file Defrosted dan astaganaga - WOY, SIAPA YANG NGEHAPUS NASKAH NOVEL AKU?!!)

Spoiler bellow :








Tadinya mau bikin trailer full color... (Bahkan sempet screenwriting dan script-nya)

Tapi ada kendala-nya... dan kendala paling memalukan, sebenarnya.

Skill gambar aku masih pas-pasan *eh

Dammit, background. Y U So hard?!!

*plak*


Jadi, sebagai gantinya, aku membuat sebuah kisah (gaje, sebenarnya) fanfiction. Soal ceritanya gimana, tunggu tanggal tayangnya. Tadinya mau bikin nangis, tapi aku gak bisa bawa suasana. Yasudah. Bakal jadi interactive comic (a.k.a Flash Comic) atau beneran jadi animasi...

Tergantung nanti.

Habis, kalau kamu betul-betul tahu bagaimana cara membuat animasi, kamu akan tahu kenapa. Animasi terdiri dari ratusan (bahkan ratus ribuan) gambar yang berganti sekitar 12-60 kali per detik. Untuk animasi ukuran HD, ya, bisa nyampe 120 gambar PER DETIK (sial :v)

Kendala 2 kalau betul-betul jadi animasi : gak ada pengisi suara

Ace dan Alvy gak mau ngasih suara mereka. Plus, gak ada alat perekamnya. Ah, dasar gak modal nih anak. Pokoknya, kalau beneran jadi animasi... silahkan, yang mau bikin versi dengan suaranya, boleh.

Kendala ketiga : Kurangnya pengalaman.

Kalau boleh bilang, ini percobaan animasi pertamaku. Pake tool seadanya, lagi (Paint tool SAI, Flash). Banyak yang bilang, 'Oi, pake photoshop aja, lebih bagus'. Namun apa daya, gua gak ngerti tool-nya sama sekali. Mau bagaimana lagi? Hahaha...

Okay, until next time!!

Aku tidak sabar untuk menyiksa karakter orang membuat animasi Fanfiction pertamaku! (Kabur sebelum Wheza melihat)

Note :
1. Chapter Defrosted akan diundur (karena hilang)
2. Kalau jadi flashcomic, akan diunduh di DeviantArt, dan kalau jadi video... aku bakal buat channel... mungkin. Tunggu pemberitahuan selanjutnya!

Kamis, 03 Juli 2014

Buku Bestseller (tidak) Selalu Buku Bagus

Hanya ingin memberi tahu kalian semua bahwa tidak semua buku Bestseller memiliki cerita bagus...

Oke, kalian yang membenciku karena aku tukang bacot cerita, aku sungguh-sungguh mengatakannya. Bukan cuma aku yang ngomong gitu. Beberapa buku best seller sebenarnya tidak layak mendapatkan gelar itu.

Kita langsung bacot saja satu buku yang... aku yakin kalian pernah dengar. Buku ini bestseller, dielu-elukan, memiliki empat buku (Saga, atau trilogi? Entah, aku lupa) dan... yah, diangkat menjadi film. Siap-siap mendapat hati yang terguncang dengan judul buku ini karena aku juga baru sadar setelah orang-orang membangunkanku dari kebutaan ini. Buku yang bestseller namun terkenal karena Tema saja...

The Twilight Saga

Kalian yang di belakang langsung berteriak dan melempariku, ITU BUKU BAGUS!! Oke, aku tahu reaksi kalian. Aku juga kaget saat aku memilih untuk membaca review-nya. Kalian tahu apa yang kutemukan? Ratusan review tentang betapa buruk novel ini sebagai novel romance.

Serius.

Kalian bisa cek sendiri.

Aku juga setelah baca 100 halaman, buku itu hilang. Tapi aku tidak menyesal. Sedikitpun tidak. Tidak seperti kehilangan buku FantasTeen bagus dari loker buku kesayanganku. Aku malah cuma bilang, 'oh, hilang?' lalu kembali membaca novel baru.

Berikut adalah alasan kenapa Twilight Saga dibenci orang-orang :

1. Enggak ada plot yang jelas selain cewek yang mau dapet pacar
I mean, seriously, Bella. Get. A. Life.

Kalau kalian perhatikan, plot kisah ini cuma terpusat pada dia. Konflik? Oke, Jacob muncul di buku kedua, tapi itu buku kedua...

2. Mary Sue dan Gary Sue dan Marty Sue di mana-mana
Mari kita deskripsikan Bella dan Edward dan potong mereka menjadi berapa bagian.

Bella : Wanita cantik yang bisa menarik hati seorang vampir. Pertama, manusia memikat makhluk yang (katanya) paling ganteng dan cantik. Hel-loooh?! Entah Edward adalah vampir paling buta atau semua cewek vampir itu buruk rupa. Kuasumsikan dia memiliki pilihan c. Bella wanita yang sangat cantik, walaupun penulisnya berkata dia adalah cewek 'biasa'. (Di beberapa bagian, banyak cowok yang menyukai dia... spoiler : bahkan gurunya!)

Dua, terlalu bergantung pada pria. Apa-apa 'Ed, tolong aku!' dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Aku tidak menganggap ini negatif karena pembaca indonesia suka yang kayak gini. Sinetronitis.

Edward : Over-possesive boyfriend (amit-amit punya pacar ginian) vampire yang selalu dan selalu mengatakan pada Bella 'Menjauhlah. Aku berbahaya'. Oke, cowok normal gak bilang gitu. Biasanya mereka menjauh dan bla-bla-bla. (Gak punya temen cowok, tapi aku tahu cowok gak gitu)

Sekarang, (maaf spoiler dikit, tapi ini yang paling menjijikan) Cowok macam apa yang masuk ke kamar cewek lewat jendela cuma buat liatin dia tidur (plus bukan suami-istri)?! Dan cewek macam apa yang menganggap itu romantis?! Itu stalking, un-allowed entry, dan kasus kriminal menjijikan yang pernah kudengar.

Dan masih banyak lagi hal yang membuatku tidak mau baca.

Bahkan ada satu blog yang menjelaskan betapa buruk buku itu! [LINK] Ternyata skill menulis-nya enggak setara dengan penulis muda di sini! (Ohok, aku merasa tua)


Jadi, semuanya, sekali lagi, Best Seller tidak selalu bagus.

Tapi jadi menggoda untuk kubeli dan kubacot di-review di blog ini. *evil laugh*

Senin, 30 Juni 2014

These Awkward Momment...

Kumpulan curhatan pendek, kebanyakan true story namun didramatisir.

__________________________________________

Waktu wisuda, kamu harus tahu betapa malunya aku berdiri di depan dengan kebaya dan sepatu slope. Gila, pegel abiisss!! Aku di depan, berdiri, wajah memerah, dan seakan ada orang yang mau meledakan bangunan di belakangku. Rasanya mau kabur, lari, terus kembali di depan laptop sambil menunggu hal yang takkan pernah datang. Itu enggak penting, tapi, yah, of course it's bad... jari kakiku sakit X(

__________________________________________

Entah mana yang sekarang kuanggap mimpi : seseorang berhasil menebak nama asliku (gyaaaah!! O////O) dan menjadi teman di Facebook atau... aku masih belum selesai mengedit ceritaku karena aku terlalu banyak mengomentari buku dan berusaha untuk membuat buku yang sempurna. Dua-duanya sama mengejutkannya... namun ironisnya, dua-duanya true story. Sekarang aku terdengar seperti anak payah yang suka ngebacot karya orang...

I'm going to die because of stupidness... sigh...

__________________________________________

Oke, kali ini extreamly true story yang kedengarannya menyebalkan. Bersiaplah! Jangan baca kalau kalian seorang penulis : Aku telah membaca kisah FantasTeen yang menyebalkan dan... oh, astaga, aku harus menahan diri untuk tidak menghubungi penulisnya dan berkata aku benci tulisannya! Aku tidak akan membahas judulnya maupun penulisnya. Tapi kalau buku itu bestseller, biar kuledakan kepalaku! *bawa shotgun, acungin ke kepala*

__________________________________________

Aku sudah cukup lelah dengan mengedit, namun aku tahu kisahku tidak bagus. Aku terus bertanya apakah aku harus menyerah atau tidak. Aku ingin, namun penolakan kedua berakibat fatal bagi diriku sendiri. Aku kehilangan kepercayaan diri. Entah kenapa. Kepalaku bisa menggambarkan penolakan ketigaku... Tanganku mati rasa. Yah, nightmare? Some dream meant to be destroyed? Or it's just my weakness? Aku tidak tahu...

Aku tidak tahu lagi...

__________________________________________

Aku berencana membuat kisah fantasi dengan saudaraku, yang namanya tidak perlu disebut, di bulan ramadhan. Tapi... sigh, aku selalu tidak punya waktu... sial.

__________________________________________

Aku lapaaaar.... Lapeer D: Perutku kosong, dan rasanya seperti ruang hampa menempati tubuhku. Mati rasaaa!! Sudahlah. Gaje, dasar.

__________________________________________

Aku pembaca FantasTeen, sementara adikku yang realistik lebih memilih PBC. Sebelum membeli, kita saling menunjukkan buku yang kita pilih. Lalu kita beli beberapa saja. And here is the awkward(est) momment I had :

Aku bisa menggambar : setidaknya basic, lah, walau gak bagus-bagus amat. Jadi, ini beneran kerasa awkward saat aku melihat kesalahan kecil ilustrator dalam cover buku yang dibeli adikku... -_-

Seharusnya aku enggak bisa gambar... seharusnya aku enggak bisa gambar... *runyem jadinya, kan?

Kamis, 26 Juni 2014

Bloody Memory : Opinion... eh, Review Singkat

FantasTeen Lux : Bloody Memory


(Dunno apa ini review, masukan, atau opini, pikir sendiri)


Setelah membaca buku itu, aku bangun jam tiga pagi.

Entahlah. Aku tidak bisa tidur lagi dan kembali menggeliat di tempat tidur. Aku mengambil segelas air dan ke kamar mandi. Berusaha menenangkan kakiku yang entah kenapa mau berlari. Bagaimana mungkin aku tidak bisa tidur karena cerita itu? Aku Cuma baca setengahnya. Enggak ada orang yang mau baca cerpen horror saat mengantuk kalau cara penulisannya seperti itu...

Woy, ini bukan cerita hantu. Woles. Ini beneran. Aku yakin tadi sebelum tidur aku membaca cerita karya Sucia (penulis Ghost Dormitory), Hilmy an Nabhany (penulis Solvite – ya, dan aku sekarang menyesal), dan karya redaksi.

Oke, sudah kusebutkan aku menyesal setelah membaca kisah mereka berdua. Aku yakin kalian tertawa. Tapi kalian harus tahu. Kukira, Hilmy (kak, atau mungkin tidak – apa kita seumuran?) tidak akan berkembang sepesat itu sejak novel Solvite yang *ahem* kurang menarik. Kalaupun ia begitu, pasti membutuhkan waktu yang lama! Paragraf berantakan, tulisan yang kurang baku...

tapi aku salah. Aku lupa kalau dia itu cowok.

Cowok itu jarang nulis. Sekalinya iya, ada dua kemungkinan :
a.   Langsung bagus dan jadi dewa (macamnya Kak Fauzi : dua dari dua buku yang aku beli mengesankan ^^. Sayang Genere Fantasy enggak dilirik orang kebanyakan)
b.   Jelek awalnya, tapi berkembang dengan pesat (Iya, Hil. Kamu. Iya, kamu. Aku minta maaf.)


Dan soal Sucia, penulis bestseller Ghost Dormitory, aku justru heran. Kok, bisa-bisanya dia melakukan kesalahan yang enggak dilakuan di buku yang pernah ia tulis? Apa jangan-jangan dia enggak pernah dikasih masukan? Maksudku, dia penulis Bestseller. How can you? Tidak bermaksud membandingkanmu dengan cowok – aku tahu kalian berbeda.

Tapi kalian diterbitkan hampir di tahun yang sama, dan sekarang skill Hilmy yang dulu di bawah kamu sekarang hampir setara. Serius! Aku yakin bentar lagi dia ngelampauin seseorang.



Back to other stories : Masih di Bloody Memory dan kubaca subuh ini.

Ziggy : Aku enggak akan komentar banyak soal Kak Ziggy. Kupikir satu-satunya buku horror di FantasTeen yang bener-bener deserved buat dapet bestseller itu Lucid Dream – memang. Plot twist, writing skill yang improved sejak Wonderworks terbit, dan plot-nya cukup keren. Entah kapan aku bisa menyusulnya.

Percayalah, awalnya, aku membeli Bloody Memory karena dia.


Sartav : Masih dengan keunikan writing-nya di Time Capsule – multiple POV yang menarik. Skill-nya juga naik, walaupun enggak se-drastis itu. Pertahankan perkembanganmu, nak (baca dengan irama nenek tua).

(Aku sebenarnya diam-diam curiga dia ini penulis FanFiction. Jarang ada novel dengan multiple POV yang berbeda-beda dalam satu chapter kecuali, yah, FF writers.)

Thumbs up for you! Write more, please?


Dienda : Aku belum pernah membaca bukumu. Belum. Aku jadi tidak tahu apakah kamu berkembang atau tidak. Just... think about that yourself. Satu-satunya tips dariku untuknya hanya sebatas character making. Buat karakter yang lebih tiga dimensi, and I am sure your story will be more awesome.


Huda : Neither I can comment about improvement here. Belum. Cara mendeskripsikanmu cukup unik, tapi kurang konsisten. Lima paragraf pertama baku, sisanya non-formal, baku lagi, nonformal... Hahaha... Overall, good story with good motive, so keep it up!


Sucia : Oke, maaf sebelumnya aku sudah kasar. Sure thing, Plot ada perkembangan pesat. (Selamat!)

Tapi, sungguh, writing skill-mu... menurun. Maksudku – sungguh – typo di paragraf kedua? Entah typo atau aku yang berlebihan, just... lakukan editing sebelum mengirim naskah. Jangan lakukan kesalahan itu lagi hanya karena kamu sudah bestseller.

Kamu sedang menulis point of view orang pertama. Jangan lupakan kata kepunyaan. Kakak Perempuanku. Sama-sama. Jangan diulangi, ya!

Penulis juga melakukan kesalahan – baiklah... Aku setidaknya mempelajari sesuatu darimu. 


Medina : Oh, kali ini juga gak bisa ngasih tips. Aku enggak tahu kesalahanmu dimana :-) Hehe. Mungkin judulnya aja yang bikin aku bingung sama...dua halaman terakhir dari ceritamu, ada sesuatu – paragraf yang hilang atau kamu lupa, semacamnya. Awalnya udah bagus, loh!


Hilmy : Yeah. I’m sorry. Aku kaget anda cepat sekali dalam perkembangan skill menulis. Aku mau bilang apa, ya? Kayaknya kamu memang sudah hobi atau bakat self-learning kamu bagus. Atau kamu les atau *plak* LUPAKAN.

Tajam dan terus terang – itu hal yang membuatmu lebih cocok di novel hantu daripada novel Fantasi. (Walaupun aku suka fantasi...) Plot, it’s always the same. Cool and Classic. Penyakit penulis-mu pada anime-tis hilang, tapi jangan jadi Captain Obvious juga, dong -_-“


Ninis : Ahaha... kesalahan yang sama dengan Sucia. Cek halaman 131 paragraf hampir terakhir. Sisanya, ceritamu bagus. Bagus banget, malah. Kali ini lebih bagus dari cerita-cerita sebelumnya. Lain kali hati-hati, ya! (Btw, kasihan banget si Ir? teganya dirimu :( hehe...)


And here it goes!! Three best story in this book versi Rohaluss! (Karya redaksi dihilangkan supaya adil)

1. Ninis : Sobekan Gaun Putih

2. Ziggy : Kenangan Berdarah Rumah Tua

3. Huda : Revenge for Killer Love (coba diperbaiki bahasa inggris-nya -_-")


Next : Jawa Jejawen Lux short review (Setelah menyelesaikan request, kegilaan, naskahku, ilustrasi dan buku lainnya)

Rabu, 25 Juni 2014

Defrosted Chapter 2

Wow, telat banget, ya? Anyway, enjoy the Chapter 2 of Defrosted ~

And I said to myself : WUT?!
Harusnya itu nangis...
Defrosted Chapter 2

Gadis itu berlari mengikuti firasatnya dan sisa ingatannya. Jantungnya tidak dapat berhenti berdetak. ia ketakutan, namun ia tidak ingat kenapa. Air matanya tidak bisa berhenti. Alih-alih kedinginan, ia merasa badannya terbakar – seperti ditusuk besi membara dari belakang berulang kali.

Tiba-tiba, kakinya terperosok sesuatu yang tertimbun salju. Kepalanya membentur sesuatu yang keras di dalam salju, dan setelah itu, rasa sakit itu menghilang. Ia dapat berhenti menangis, tidak merasakan rasa sakit yang membuatnya berlari. Entah mengapa, ia merasa salju ini seakan-akan memeluknya, memberikannya kehangatan dan ketenangan...

Lalu, ia tertawa.


Demor merenyit saat melihat gadis bodoh itu membenamkan wajahnya di dalam salju dengan posisi seperti kue manusia jahe (hanya saja lebih idiot). Dia mendekati tubuh gadis itu, mencoba untuk tidak mengganggunya, apapun yang ia lakukan.

Tertawa setelah terjatuh. Akan masuk akal jika ia mentertawakan dirinya sendiri setelah melukai kepalanya.

“Hei, elemental,” Demor menepuk punggung gadis itu.

Gadis itu terlonjak kaget. Ia berguling menjauh seperti kayu dan tanpa sengaja menabrakan pungggungnya dengan pohon. Dia sempat mengaduh sebelum buru-buru berdiri kaku.

“Kau ini kenapa? Lari setelah melihatku, menangis setelah es-mu dipecahkan, dan sekarang kau menatapku seakan aku ini monster,” Demor menghela nafas. “Jangan bilang aku ini menyeramkan bagimu.”

“Tanganmu kasar...” gadis itu memainkan tangannya. “...kasar seperti kerikil...”

Itu kasar. Apa kau pernah belajar sopan santun?”

“Aku tahu tanganmu kasar,” gadis itu mengangguk. “Siapa kamu?”

Orang yang baru saja kau teriaki sebagai monster lima menit lalu dan hampir kau bunuh dengan sihir es-mu yang tidak normal. Juga orang yang sama dengan yang baru saja kau ejek. Apa itu cukup untuk memperkenalkan diri? Jika tidak, izinkan aku membekukanmu lagi dan mereka ulang adegan tadi.

“Namaku Demor dari Kelompok Pengelana Musim Semi.”

“Kelompok pengelana musim semi? Tapi ini musim dingin,” gadis itu kebingungan. “Ini... salju dimana-mana dan... kalian lupa cara pergi dari sini?”

Demor mengeraskan tangannya, “Itu hanya sekedar nama, dasar bodoh. Bukan berarti kami mengitari dunia untuk musim semi – kami lebih sering menetap dan pindah kalau cuaca buruk, musibah alam, dan buruan langka. Kami melakukan itu untuk bertahan hidup.”

“Tapi klan-ku adalah klan musim dingin. Kami mengelilingi dunia karena kami terbiasa dengan-”

“Kalau begitu, kita berbeda,” potong Demor sebelum ia harus mendengarkan orang lain. “Siapa namamu?”

“...um, Frosta... nama margaku Frosta,” lirih gadis itu, kurang yakin. “Frena? Um...”

Bodoh, Demor mengumpat dalam hati, lalu menyilangkan tangan.

“Kamu kedinginan?” tanya gadis itu.

“Tidak, aku menunggumu menjawab pertanyaanku. Tentu saja aku kedinginan. Aku bukan wanita musim dingin yang melompat kesana kemari  tanpa alas kaki dan baju tipis,”

“Um...” Gadis itu menatap kedua kakinya, malu. “Kamu bisa kembali ke klan milikmu sekarang. Aku akan pulang sendiri.”

“Jangan per-” lalu, Demor berhenti. Astaga. Aku hanya perlu untuk melarangnya kembali ke tempat itu, kenapa sulit sekali?!

“Aku... aku ingat pohon ini. Perkemahan klan-ku dekat,” gadis itu berbalik.

“Tidak ada asap api dari arah sana,” kata Demor.

Gadis itu hanya diam. Pundaknya menegang, dan secara tidak sadar ia memainkan jari-jarinya. Dia menatap Demor, lalu tersenyum dengan paksa. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.

“Klan-ku memang tidak menyalakan api unggun walaupun musim dingin,”

“Tapi kalian menggunakannya untuk memasak, bukan? Ayolah. Jangan pura-pura. Kamu sudah tahu semuanya sejak kau bangun dari es itu.”

Tetesan air mengalir di pipi gadis itu, “Tapi...”

“Ingatan keluarga elemental terhubung satu sama lain. Kau melihatnya. Mereka sudah-”

“Itu tidak mungkin!!!” teriak gadis itu. “Itu tidak mungkin terjadi, aku-”

“Aku bicara kenyataan,”  Demor mengulurkan tangannya. “Kami mendengar sekumpulan elemental es diburu beberapa tahun yang lalu. Kamu mungkin satu-satunya yang-”

Gadis itu terduduk, dengan wajah ketakutan.

Lalu, ia menangis.



“Sennia, kau berlebihan,” ucap ketua. “Demor takkan pergi terlalu jauh, kau tak perlu khawatir...”

“Ayolah, aku ini, kan, tabib utama kelompok ini,” Sennia mengambil tombaknya. “Demor pasti terluka di suatu tempat. Dia lamaaa sekali! Aku, kan, jadinya...”

khawatir?” sambung wanita di belakang. “Jadi selama ini...”

“Tidaaak!” Sennia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Dengan cowok hitam berambut cokelat itu?! Tidak – tidak akan pernaaaah!!”

Hening.

“Aku sungguh-sungguh! Aku lebih suka dia mati daripada hidup!!”

“Kalau begitu, kau tidak perlu keberatan untuk menunggu di sini,”

“Tapi-”

Suara Sennia terpotong karena aura aneh yang ia rasakan. Aura yang menahan nafas dan memaksa berhembus pada saat yang bersamaan. Rasa sakit di dada yang tak dapat dikisahkan. Suara tipis seperti angin namun menyiratkan kekhawatiran. Aura yang membuat Sennia menitikan air mata tanpa sebab...

Tangisan Elemental.

“Sennia?”

Sennia menghapus air matanya, “Aku harus mengecek sesuatu.